Evi Widayati (kiri) dan Donny Afrea memamerkan seni pahatan buah di sela-sela gathering para chef di El Hotel Senin malam (2/10).

KABUPATEN – Kalau Thailand punya makanan khas bernama tomyam. Jepang punya sushi. Sedangkan kimchi menjadi ikon makanan Korea Selatan. Lalu, apa kuliner khas Malang Raya yang bikin penikmatnya kangen?

Itulah yang sedang dirumuskan 150 chef dalam gathering yang digelar Indonesian Chef Association (ICA) Malang Raya di Ballroom El Hotel Karangploso Senin malam (2/10).

Di sela-sela gathering tersebut, perwakilan chef Hotel Gajahmada mendemokan pahatan ice carving (ukiran es). Juga ada penampilan kreativitas siswa SMK Negeri 7 Malang Evi Widayati dan Donny Afrea Tama dalam membuat fruit carving (pahatan dari buah). Keduanya dibantu chef Swiss Belinn Hotel dan Gets Hotel. Mereka menyajikan beragam pahatan fruit carving dari buah semangka menjadi bentuk yang cantik dan unik. Bahkan, salah satunya bertuliskan ”Radar Malang”. Dalam gathering itu, juga ada demo mocktail.

Ketua ICA BPC Malang Raya Pamungkas Suparmo menjelaskan, kegiatan gathering ini diadakan dua kali dalam setahun. ”Cuma tahun ini masih satu kali karena banyak anggota yang masih sibuk,” jelas Pamungkas kemarin.

Dalam gathering tersebut, hadir tim akselerasi pengembangan kuliner dan wisata belanja Kementerian Pariwisata Tendi Nuralam dan perwakilan dari chef berbagai kota, mulai dari Madiun, Surabaya, Bali, Kediri, hingga Tulungagung.

Dalam diskusi kali ini, mereka membahas ciri khas kuliner Malang Raya yang akan ditonjolkan. Selain itu, mereka fokus pada pengembangan kuliner di dunia pendidikan dan bisnis. Seperti di sekolah dan universitas yang memiliki jurusan tata boga.

Masih kata Pamungkas, hingga saat ini masih belum ada inovasi baru terkait kuliner Malang Raya yang bisa dikembangkan sebagai brand wisata. Maka dari itu ke depannya, dengan adanya gathering ini, seluruh rumah makan dan hotel bisa sepakat setiap menu breakfast, lunch, maupun dinner, ada satu masakan asli Bumi Arema yang wajib dihidangkan.

Sedangkan Tendi menambahkan, brand kuliner Malang Raya tak hanya sekadar makanan favorit warga Malang. Tapi, juga nama masakan tersebut harus memiliki story (ceritanya). ”Tak hanya Malang Raya, tapi Indonesia pun tak punya masakan khas yang bisa diingat wisatawan,” jelasnya.

Dia berpendapat, wisatawan datang ke suatu lokasi wisata itu biasanya 60 persen untuk mengetahui budayanya, sedangkan 40 persen mencari kuliner. ”Jika kita tak punya satu kuliner yang bikin wisatawan rindu ingin kembali, lalu bagaimana dengan 40 persen tersebut,” tambahnya.

Tendi berharap, Malang Raya menjadi satu kesatuan. Jika Kota Batu jadi pusat wisata buatan, Kabupaten Malang jadi pusat wisata alam, maka Kota Malang buatlah jadi wisata heritage dan kulinernya. Selain itu, Jawa Pos Radar Malang bisa menerbitkan buku Jelajah Kuliner Malang Raya.

”Tak sekadar mencantumkan resep saja, tapi ayo angkat story telling (cerita) masakan tersebut,” saran Tendi.

Sementara untuk menentukan menu apa yang bisa ngangeni penikmat kuliner itu, rencananya dalam waktu dekat, para chef akan bertemu lagi untuk merumuskannya. Setelah nantinya ada kesepakatan, maka menu-menu tersebut yang dijadikan menu andalan yang benar-benar khas Malang Raya.

Pewarta: Masrur Adiputra
Penyunting: Abdul Muntholib
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Doli Siregar