Saat kita melintas di Jalan Letjen Sutoyo, Kota Malang, yang selalu riuh itu, plang bertuliskan Kedai Mie Sutoyo berwarna warni terlihat jelas dari pinggir jalan. Di bawahnya terdapat keterangan sejak 1940. Artinya, lima tahun sebelum Republik Indonesia merdeka, cwie mi ini sudah berdiri.

Layaknya cwie mi pada umumnya, komposisi utama di warung ini terdiri dari mi yang berbentuk pipih dengan olahan ayam di atasnya. Sebagai pelengkap, ada taburan bawang goreng serta daun bawang.  Jika Anda termasuk orang yang lidahnya sensitif terhadap bahan-bahan pengawet, pasti Anda akan langsung sadar kalau mi serta bumbunya sama sekali tidak memakai bahan tambahan.

”Saya memang masih memakai resep kuno turunan dari kakek saya. Nggak ada pengawet, pengenyal, pewarna, apalagi MSG (monosodium glutamat). Kalau dilihat, mungkin warna minya agak pucat, nggak kuning cantik. Itu karena komposisinya memang cuma telur dan tepung saja. Telurnya juga harus telur ayam kampung,” ujar Muliady, pemilik generasi ketiga dari Kedai Mie Sutoyo, kemarin (3/8).

Olahan ayamnya pun hanya memakai bumbu sederhana. Yaitu, garam, gula, merica, dan kecap. Resep sederhana dan sehat itulah yang menjadi keistimewaannya. Perintis warung ini adalah Engkong Loo, yang tak lain kakek Muliady. Pada 1940 itu, Engkong Loo belum memberi nama khusus pada mi yang dijualnya.

”Kalau dulu, ya masih pakai rombong gitu. Keliling di daerah pasar besar. Karena kan pusat kotanya di situ. Sampai saat bapak saya yang ambil alih, itu juga masih pakai gerobak. Saya sempat mengalami juga, ikut bapak keliling jualan mi,” ungkap pria berusia 40 tahun tersebut.

Sejak kecil dia memang sudah biasa menemani bapaknya, Che Ming, membuat mi. Setelah lama berkeliling, mulai akhir tahun 70-an, cwie mi yang dulu tak bernama ini mangkal di Klenteng Eng An Kiong. Karena memiliki nilai historis, Muliady tetap mempertahankan ”gerobak”nya yang di klenteng hingga sekarang.

”Jadi, cwie mi kita bisa dinikmati di dua tempat. Bisa di klenteng, atau di Kedai Mie Sutoyo. Perbedaannya, hanya ada di varian menunya saja. Kalau yang di klenteng, hanya menjual cwie mi ayam original,” kata pria yang lahir di Malang, 26 Mei 1977, ini.

Kedai Mie Sutoyo memang baru dibuka lima tahun yang lalu. Muliady menggunakan konsep baru yang menyesuaikan dengan perkembangan zaman. ”Kalau di sini ada banyak menu tambahan, seperti Cwie Mie Ayam Pedas, Cwie Mie Ayam Katsu, dan lain-lain,” jelas pengusaha yang hobi yoga tersebut.

Satu porsi Cwie Mie Ayam Pangsit bisa dinikmati dengan harga Rp 22.000. Jika ingin mencoba rasa yang berbeda, Kedai Mie Sutoyo menyediakan berbagai topping. Yaitu, ayam, jamur, katsu, char siu, lada hitam, chicken pop, bakso, bakso goreng, siomay tim, dan tahu tim.

Setiap harinya, Muliady bisa menghabiskan sekitar 200 kilogram tepung. ”Kalau telurnya, wah, nggak menghitung. Kita pesannya per peti gitu,” jelas Muliady yang saat ini mempunyai delapan pegawai.

Karena bahan-bahannya tidak instan, setiap harinya, pukul lima pagi, Muliady beserta istrinya sudah menyiapkan semua bahan yang diperlukan. Mereka tidak mengenal hari libur, karena mereka buka setiap hari. Namun, hal itu tidak dianggapnya sebagai beban. ”Saya memang suka cwie mi. Bisa dibilang, tiap hari pasti makan mi,” ucapnya sambil tersenyum.

Pewarta: Tabita Makitan
Penyunting: Irham Thoriq
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Darmono