Siang sedang panas-panasnya saat wartawan koran ini berkunjung ke warung ini kemarin (21/9). Beberapa orang silih berganti masuk ke warung yang berada di dekat pertigaan Jalan M.T. Haryono, Tlogomas, Kota Malang, ini. Ya, kira-kira seperti itulah suasana Soto Dok Lamongan H M. Kholis. Di daerah tersebut, nama soto ini begitu melegenda.

Perjalanan panjang warung ini bermula dari almarhum H M. Kholis muda yang merantau ke Kota Malang 32 tahun yang lalu. Bisa dibilang, keluarganya ’bedol’ desa waktu itu. Bersama lima saudaranya yang lain dia meninggalkan Desa Kembangan, Kecamatan Sekaran, Lamongan.

Keluarga mereka lalu menyebar di Kota Malang. Meskipun bergitu, pekerjaan mereka sama. Yakni, jualan soto. Berbekal resep yang diajari orang tua, mereka jualan soto agar bisa survive tinggal di kota ini.

Ada yang jualan di daerah Kemirahan, Blimbing, Sukun, Ciliwung, dan Jalan M.T. Haryono. Khusus H M. Kholis, dia selalu berjualan di Jalan M.T. Haryono.

Sebelum memiliki ruko sendiri sekitar tahun 1995, H M. Kholis menyewa tempat jualan dan pindah dua kali. Setelah H M. Kholis meninggal dunia lima tahun lalu, warung tersebut kemudian dikelola anak bungsunya, Tonik Zufiah, beserta suaminya, Kukuh Ariya Utama.

”Dulu, untuk beli ruko ini, mertua saya jual sawah di desa,” kata Kukuh mengawali wawancara kemarin.

H M. Kholis tidak hanya mewariskan ruko tersebut. Ada sesuatu yang lebih penting yang diwarisi almarhum. Yakni, resep soto. Menurut Kukuh, resep soto ini berbeda dengan resep soto pada umumnya.

”Secara umum mungkin sama dengan soto biasanya, seperti kunir, bawang brambang, dan daun jeruk. Tapi, ada sedikit perbedaan yang tidak mungkin saya sebut karena itu rahasia kami,” kata pria asli Jombang ini lantas tertawa.

Ya, rasa soto ini memang maknyus. Meski tanpa taburan koya, tapi sedapnya begitu nendang dan pas. Kuah yang banyak di setiap porsinya membuat soto ini tampak segar dan cocok diseruput di siang hari. Apalagi, saat perut sedang berdendang karena lapar.

Tidak adanya koya di soto ini, menurut Kukuh, bukan tanpa alasan. Menurut dia, sejatinya soto Lamongan memang tidak menyajikan koya. Tidak hanya itu, santan pun juga tidak ada. ”Jadi, murni kaldu dari daging yang bikin sedap,” imbuh pria 34 tahun ini.

Di warung ini ada tiga varian soto yang disediakan. Yakni, soto daging, soto ayam, dan soto ceker. Untuk soto daging, pelengkapnya adalah kecambah. Sedangkan untuk soto ayam ada mi dan kecambah.

Jika Anda butuh menu tambahan, tak perlu khawatir, karena ada berbagai menu tambahan yang bisa membuat rasa soto makin maknyus. Tambahan itu berupa aneka macam jeroan seperti paru-paru, babat, usus, limpa, dan perkedel kentang. Warung ini juga menjual aneka macam jus.

Tak hanya itu, dalam setiap menu yang disajikan pasti ada ’dok’ seperti nama warung ini. ”Yang dibuat untuk bunyi dok itu adalah kecap asin. Itu ciri khas soto dok Lamongan,” jelas pria dengan dua anak ini.

Harga setiap menu di warung ini bisa dibilang bersahabat bagi kantong mahasiswa. Soto dagingnya seharga Rp 9.000, soto ayam Rp 9.000, dan soto ceker Rp 11.000. Masing-masing jeroan diberi harga Rp 3.000. Meski harga mahasiswa, tapi yang datang ke warung ini juga banyak dari kalangan pegawai dan pejabat.

”Wakil Wali Kota Malang Sutiaji pernah ke warung ini. Tapi untuk pejabat, biasanya mereka kesulitan memarkir mobilnya, karena tempat parkirnya terbatas,” imbuhnya.

Saban hari, Kukuh mengungkapkan, rata-rata warungnya mampu menjual 100–150 porsi soto. Jumlah itu menghabiskan daging rata-rata 1,5 kilogram dan 1–2 ekor ayam.

Pewarta: Irham Thoriq
Penyunting: Irham Thoriq
Copy editor: Arief Rohman
Foto: Bayu Eka