Sore mulai beranjak pergi. Pembeli silih berganti keluar masuk warung tersebut kemarin (28/9). Khoirul Roziqin, 25, pengelola warung ini, sedang sibuk menata kepiting yang ukurannya sekitar satu genggam tangan orang dewasa. Kepiting itu dibersihkan sebelum akhirnya dimasak oleh pria yang akrab disapa Irul ini.

Ketika sore hari, warung tersebut memang menyediakan seafood. Sementara dari pagi, yakni pukul 10.00, hingga pukul 16.00, warungnya hanya menyediakan lalapan. Lalapan yang menjadi andalan warung ini tetap ada hingga warung tutup pukul 23.30. Kira-kira, seperti itulah siklus yang terjadi setiap hari di warung tersebut.

Lalapan menjadi ciri khas warung ini karena sambalnya, dan itu jugalah yang menjadi andalan warung ini. Walaupun setiap harinya menghabiskan bahan sambal sekitar tujuh kilogram, tetapi sambal di warung ini selalu digerus oleh tangan, sehingga rasanya begitu pas. Pengunjung yang suka pedas bisa memesan sambal pedas di warung ini. Sedangkan bagi yang tidak suka pedas bisa minta sambal biasa atau tidak pedas. Dengan daging ayam atau bebek yang empuk, sambal tersebut begitu menggoda selera. Apalagi bila jam makan siang tiba.

Ada resep yang membuat sambal di warung ini maknyus luar biasa. Ada bahan yang tidak biasa yang digunakan Irul. Yakni, biji wijen. Dari tujuh kilogram bahan sambal, seperempat di antaranya adalah biji wijen. Ini tentu tidak biasa, lantaran biji wijen biasanya dibuat untuk campuran kue onde-onde.

”Ini sudah ciri khas keluarga besar kami, yang hampir semuanya adalah penjual lalapan khas Lamongan,” kata Irul yang merupakan anak dari Khoirus Shobah, pendiri warung ini.

Selain itu, ada lagi ciri khas warung ini. Yakni, terasi yang digunakan diambil langsung dari Lamongan. Saban bulan, Irul pergi ke Lamongan untuk membeli terasi sebanyak 30 kilogram.

”Sebulan habis sekitar 20 kilogram terasi. Tapi, buat cadangan, (saya) selalu ngambil 30 kilogram,” imbuh suami Tia ini.

Selain terasi dan biji wijen, bahan lain untuk sambal di tempat ini hampir sama dengan lalapan pada umumnya. Sebut saja, bawang merah, cabai, garam, gula, dan bawang putih.

Warung ini mengandalkan lalapan karena sejak warung ini berdiri 27 tahun lalu, yang pertama dijual adalah lalapan. Sedangkan seafood baru disediakan tiga tahun terakhir.

Ya, warung ini berdiri sekitar tahun 1990-an. Waktu kali pertama berdiri, warung ini berada di Batu. Khoirus Shobah yang merantau dari Lamongan mendirikan warung di kota wisata tersebut.

Baru sekitar tujuh tahun yang lalu warung ini pindah ke Jalan Terusan Dieng, Kota Malang, setelah keluarga Irul mampu membeli ruko dengan sistem kredit. ”Alhamdulillah, selalu saja nutut buat bayar kredit,” imbuhnya.

Ya, warung ini sehari-harinya memang sangat ramai. Saban hari, warung ini menghabiskan 30 kilogram ayam, 15 kilogram bebek, masing-masing 3 kilogram kepiting, gurami, dan ikan dorang, serta 5 kilogram ikan mujaer. Karena inilah, meski kredit ruko ini mencapai angka dua digit, keluarga Irul selalu mampu membayarnya.

”Satu hari, sekitar 250 porsi yang terjual,” imbuh alumnus SMK Nasional Malang ini.

Untuk omzet kotor, warung ini rata-rata mendapatkan empat juta hingga enam juta dalam sehari. Selain itu, sehari-hari keluarga Irul dibantu oleh empat karyawan. ”Sehari-hari saya yang mengelola di sini. Ayah saya sudah tidak ikut mengurusi. Mungkin sehari-hari cuma belanja,” pungkasnya.

Sementara itu, Kristin, salah seorang pembeli, mengatakan kalau hampir setiap hari dirinya membeli lalapan di warung ini. Dia menyampaikan, makanan yang dibelinya itu untuk anaknya yang suka makan ayam, yakni Yohan Sanjaya Putra.

”Saya belikan di daerah lain dia tidak mau. Katanya tidak enak. Yang cocok di sini katanya,” kata Kristin.

Pewarta: Irham Thoriq
Penyunting: Irham Thoriq
Copy editor: Arief Rohman
Foto: Bayu Eka