Sejumlah orang berjejer di depan gerobak yang berada di Jalan M.T. Haryono, Kota Malang, Selasa lalu (7/11). Mereka adalah pembeli soto di warung soto Cak Riy yang sudah berdiri sejak 1984 atau 33 tahun silam.

Mereka adalah pelanggan setia soto Cak Riy. Mereka berlangganan soto tersebut karena rasanya yang tak pernah berubah. Yakni, kuahnya yang bening, ditambah irisan ayam, hati ayam, seledri, dan telur ayam yang menjadi pelengkap.

”Soto ini diberi nama Soto Lamongan Cak Riy karena saya asli orang Lamongan. Tapi, meski banyak soto Lamongan, warung ini mempunyai rasa yang berbeda,” kata Akhmad Djaynuri, 57, pemilik dan pendiri warung tersebut.

Selain soal rasa, soto di tempat ini juga disajikan semenarik mungkin. Pelanggan bisa menentukan sendiri apakah soto akan dicampur dengan nasi atau tidak. Begitu juga dengan varian lain, yakni soto jeroan, soto ayam tanpa kulit, dan soto istimewa. Semuanya bisa memilih dicampur atau dipisah dengan nasi.

”Kuah dan sedapnya soto ini beda. Rasa segar yang dicampur dengan seledri serta irisan jeruk nipis membuat aromanya sedap,” imbuh pria yang akrab disapa Cak Riy ini.

Warung Cak Riy memang tidak memiliki cabang. Namun, ketika Minggu, warung ini membuka stan di kawasan kuliner Car Free Day (CFD). ”Kalau ciri khas soto di warung ini adalah warnanya yang bening, tidak terlalu kuning. Selain itu, irisan ayam kampung yang lebar dengan kualitas bagus,” imbuhnya.

Dengan menggunakan bumbu rempah-rempah tanpa penyedap, agar rasa tidak berubah, Cak Riy membeberkan, takaran bumbu di warungnya tidak pernah dikurangi meski suatu ketika harga bumbu naik.

”Harus tetap menjaga kualitas dan mengerti selera masyarakat karena berjualan itu memuaskan pelanggan,” imbuh pria tiga anak ini.

Cak Riy lantas bercerita pasang surutnya dalam bisnis kuliner. Dia mulai merintis usaha kuliner sejak 1984 atau 33 tahun silam. Sejak itu, dia berjualan soto di sekitar Alun-Alun Kota Malang. Pada tahun 2000, dia mendorong gerobak dan buka di Pasar Besar Kota Malang.

Mulai 2004 hingga 2007, dia berjualan di Terminal Arjosari. ”Ketika itu saya bangkrut dan modal tinggal kenangan,” imbuhya. ”Hingga akhirnya pada Juli 2007, saya membeli tempat permanen di tempat ini setelah menjual rumah dan tanah,” ucapnya.

Selain soto, Cak Riy juga menjual nasi lontong, tahu telor, dan tahu tek-tek. Akan tetapi, varian ini hanya menu pelengkap. Yang utama di tempat ini tetap soto.

Pewarta: NR6
Penyunting: Irham Thoriq
Copy Editor: Indah Setyowati
Foto: Bayu Eka