250 Porsi Bubur Tandas Setiap Hari

Setiap bisnis pasti mengalami sebuah pasang surut. Hal tersebut juga dialami oleh pasangan suami istri Arum dan Darsono. Namun tetap saja, massa-massa sulit adalah saat terjadi penertiban pedagang kaki lima di kawasan Pasar Besar.

”Kalau yang mengancam itu satpol PP,” ucap Darsono sembari tersenyum tipis. Dirinya juga tampak memaklumi hal tersebut. Namun, dari sanalah keluarganya mengais rezeki.

Selain hal itu, menurutnya, persaingan penjual bubur saat ini sangat banyak dibandingkan dulu pada tahun 1980-an. ”Sekarang di semua tempat sudah merajalela,” katanya. Meski persaingan makin ketat, tapi dia percaya bahwa bubur di tempatnyalah yang paling enak.

Hal itu bukan tanpa alasan. Sebab, bubur buatannya pernah memasuki era jaya. Ketika itu, Matahari Mall baru saja buka dan itu mendongkrak penjualannya. Bahkan, karena itu, pada tahun 2000-an buburnya banyak dipesan oleh pedagang dari Sarinah dan Matahari Mall.

”Banyak pemesan hingga saya bisa membeli rumah,” ujarnya. Sebelum mendapatkan ”durian runtuh” itu, dia masih ngontrak dan berpindah-pindah.



Meski kini penjualannya sedang turun, tapi dia tetap bersyukur. Kini, dalam satu hari omzetnya berkisar Rp 1 juta. Bila satu porsi seharga Rp 4.000 dan omzetnya dalam sehari sebesar Rp 1 juta, diperkirakan porsi yang terjual sebanyak 250 porsi. Meski tidak bisa memprediksi jumlah pembeli, namun dirinya bisa memperkirakan berapa yang terjual.

”Sekarang kira-kira sehari menghabiskan 8–9 panci per hari,” terangnya.

Dalam sehari dia bisa menghabiskan ketan hitam sebanyak 2 kg, tepung kanji dan ketan untuk jenang grendul sebanyak 4 kg, dan tepung beras untuk jenang sumsum sebanyak 5 kg. ”Untuk kelapa, mungkin bisa mencapai 25 buah per harinya,” imbuh bapak satu anak itu.

Pewarta: Gigih Mazda
Penyunting: Irham Thoriq
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Darmono