Warung bakso ini memang sederhana, tapi karena ”rasanya” yang luar biasa, warung bakso ini menjadi jujukan ratusan orang setiap hari. Ada resep rahasia yang menjadi pembeda.

Hujan yang seharian mengguyur Kota Malang kemarin (25/1) tidak menyurutkan langkah para pelanggan Bakso Cupit Urang di Jalan Bendungan Sutami, Kota Malang, untuk menyantap bakso di tempat ini. Silih berganti orang keluar masuk di warung bakso yang sederhana itu.

Saat jarum jam masih menunjukkan pukul 15.00, sejumlah item bakso sudah habis di warung tersebut. Ketika itu, hanya siomay dan pentol yang belum tandas. ”Goreng bulat yang menjadi ciri khas warung ini sudah habis duluan, padahal bawanya buanyak,” kata Nur Rohmah, salah seorang karyawan di warung ini.

Keramaian di warung bakso ini, menurut dia, sudah turun karena saat ini musim libur kuliah. Memang, mahasiswa menjadi konsumen utama di warung bakso ini. Letaknya yang strategis serta rasa baksonya yang yahud, membuat warung ini menjadi jujukan mahasiswa. Mencari warung ini memang tidak sulit karena persis berada di sebelah UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) kampus II.

Jadi, jika Anda dari perempatan Jalan Veteran, Anda cukup ke arah pom bensin. Setelah pom bensin, ada UMM Kampus II, di sampingnya ada gang. Nah, persis di samping gang itulah warung bertenda hijau ini berdiri. Di tendanya ada tulisan Warung Cupit Urang. Nama ini diambil dari daerah asal pemilik warung ini, yakni pasangan suami istri Abdul Qodir, 43, dan Minarti, 34. Keduanya tinggal dari daerah Supiturang, Kelurahan Mulyorejo, Kota Malang.

Minarti menyatakan, dia tidak tahu persis kapan warung ini berdiri. Lantaran, warung tersebut awalnya merupakan milik pamannya bernama Ribut. Ketika Ribut meninggal, Minarti dan suaminya yang meneruskan usaha itu. ”Saya saja lupa, kayaknya sekitar lima belas tahun yang lalu,” katanya.

Selain diwarisi sebuah gerobak, warisan terpenting Ribut adalah resep. Selain dari Ribut, menurut dia, suaminya belajar masak bakso dari seseorang yang berasal dari Solo. ”Saat itu dia karyawan kami juga, tapi setelah itu buka sendiri, tapi sekarang sudah tidak jualan,” kata ibu dua anak ini.

Hanya, untuk urusan resep Minarti tidak mau membeberkannya. ”Itu rahasia perusahaan,” katanya lalu terkekeh. Pantas saja, Minarti merahasiakan, karena rasa kuah bakso ini memang khas. Saat diseruput, perpaduan rasa sedap dan manis benar-benar menyatu. Ketika diseruput, rasanya benar-benar maknyus.

Sedangkan untuk pentol, bumbu dalam dagingnya begitu terasa. Pentol kasarnya terasa pas di lidah. Menurut Minarti, untuk membuat pentol, setiap hari untuk warung di Jalan Bendungan Sutami saja, dia menghabiskan sekitar 15 kilogram daging sapi.

”Tapi, tidak pernah menghitung bikin berapa pentol, kalau seribu lebih ya ada,” pungkasnya.

Pengakuan Minarti ini masuk akal, karena menurut karyawannya, ada sekitar 200–300 porsi yang terjual. Jika dalam satu porsi ada tiga pentol, maka pentolnya sudah 900 biji. Ini belum jika ada pelanggan yang menambah pentol. Harga satu porsi di warung ini cukup murah, yakni Rp 7.000. Warung ini sekarang sudah mempunyai dua cabang, yakni di Jalan Gajayana, Kota Malang, dan di daerah Pakisaji. Kebanyakan, para pekerjanya adalah saudara-saudara Minarti sendiri.

Pewarta: Irham Thoriq
Penyunting: Irham Thoriq
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Bayu Eka