Baksoku di Jalan KH Ahmad Dahlan, Kota Malang

Usaha Baksoku di Jalan KH Ahmad Dahlan ini benar-benar from zero to hero. Berawal dari usaha bakso keliling sekitar 30 tahun silam, Baksoku kini mempunyai banyak cabang. Pembelinya mulai dari bupati hingga pemain Arema. Rasanya yang konsisten membuat pembeli ketagihan.

Saat wartawan Jawa Pos Radar Malang berkunjung, kemarin (16/3) sekitar pukul 10.00, Baksoku di Jalan KH Ahmad Dahlan ini masih tutup. Sekitar tiga menit kemudian, pengelola bakso, Karlin, datang. Lalu, dia membuka warungnya. Nah, selang lima menit warung tersebut dibuka, sudah ada sekitar sepuluh pembeli yang datang.

Ketika siang mulai beranjak, pembeli terus berdatangan. Setiap hari, nyaris seperti itulah situasi Baksoku yang berada di sebelah utara Pasar Besar Kota Malang. Jika dari Pasar Besar, warung bakso tersebut berada di pojokan perempatan sebelah utara atau di depan Lumpia Hok Lay.

Warung bakso ini sudah 15 tahun beroperasi atau buka sejak 2002. Namun, jika ditarik ke belakang, sebenarnya Baksoku ada sejak 30 tahun silam, yakni tahun 1987. Lantaran, warung Baksoku sudah ada tapi berupa bakso keliling pada tahun itu. Baru pada 2002, bakso ini mempunyai tempat permanen. ”Dulu ya ngemper-ngemper di depan toko sekitar sini,” kenang Karlin, pengelola warung.

Laki-laki asli Wonosari, Kabupaten Malang itu, menyampaikan, karena pembeli cukup ramai, akhirnya pihaknya memutuskan untuk menetap di sebuah tempat. ”Sejak pindah hingga sekarang, sudah sekitar 15 tahunan,” kata dia.

Baksoku tidak hanya berada di Jalan KH Ahmad Dahlan, cabangnya juga tersebar di beberapa kawasan di Kota Malang. Seperti di depan pusat perbelanjaan Mitra, Sawojajar, Sukun, Jalan Muharto, Blimbing, dan di depan Hotel Ollino Garden Jalan Aries Munandar. Selain berada di warung, juga terdapat penjual bakso keliling.

Karlin mengatakan, Baksoku merupakan usaha pribadi yang dirintis sang kakak bernama Riyadi. ”Sekarang saya yang melanjutkan,” imbuhnya. Baksoku menjual menu seperti penjual bakso pada umumnya. Seperti bakso kasar, bakso halus, tahu, siomay, bakso goreng, dan lontong.

Yang membedakan, jika biasanya bakso dilengkapi dengan mie, Baksoku tidak menyediakannya. Alasannya, mi tidak bisa diolah lagi. ”Dulu pernah pakai mi. Tapi, gara-gara kalau masih sisa tidak bisa dimasak lagi, akhirnya kami tidak menyediakan mie. Jadi, khusus jual baksonya aja,” ujar bapak satu anak ini.

Karlin menyampaikan, dalam satu hari, dirinya bisa menjual kurang lebih 1.000 mangkok bakso. ”Sehari habis setengah kuintal lebih daging,” lanjutnya. Warung yang buka mulai pukul 10.00–21.00 itu, banyak diminati oleh semua kalangan masyarakat. Mulai anak-anak hingga orang dewasa. Mulai pelajar, mahasiswa, karyawan, hingga artis pernah mencicipi gurihnya bakso tersebut.

Satu porsi Baksoku dibanderol dengan harga Rp 13 ribu, yang berisi satu bakso kasar, 2 bakso halus, siomay, bakso goreng, tahu, dan siomay basah. Namun, dirinya membebaskan jika pembeli ingin memilih sendiri isian menunya.

Pembelinya tidak hanya berasal dari Kota Malang, beberapa bahkan ada yang dari Kalimantan dan Bali. Selain dari masyarakat umum, pembeli Baksoku ada yang dari kalangan pejabat hingga artis. ”Pak Rendra (Bupati Malang) juga pernah beli, tapi tidak ke sini. Kami pernah diundang untuk mengisi event, nah beliau beli di situ,” terangnya.

Selain itu, juga beberapa pemain Arema yang pernah singgah dan membeli Baksoku, seperti Dedik Setiawan, Junda Irawan, dan Oky Derry. Suami dari Indah P. ini mengungkapkan, dalam sehari pihaknya bisa meraup omzet sebesar Rp 4 juta. ”Kalau hari libur ya lebih dari itu. Kadang lebih dari Rp 5 juta,” bebernya.

Pewarta: Fisca Tanjung
Penyunting: Irham Thoriq
Foto: Darmono