Bali saat Pergelaran Kuta Beach Festival, Bersenang-Senang Sampai Pagi

Bali saat Pergelaran Kuta Beach Festival, Bersenang-Senang Sampai Pagi

Bali menjadi jujukan wisata turis domestik maupun mancanegara. Selain memiliki semua hal tentang keindahan alam, Pulau Dewata punya banyak event yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya, Kuta Beach Festival.

KUTA Beach Festival adalah festival tahunan yang digelar di pinggir pantai. Saya datang ke festival tersebut pada 11–13 Oktober lalu atas undangan Four Points by Sheraton Bali. Kesempatan itu pun saya gunakan untuk menikmati Pulau Dewata dengan cara yang berbeda.

Perjalanan menikmati Bali dimulai pada 11 Oktober. Awalnya, pihak penyelenggara mengatakan akan mengajak berkeliling Kuta dan Denpasar. Lalu, berhenti di salah satu restoran yang menyajikan bir asli Bali. Yang saya pikirkan saat itu, apa asyiknya berkeliling Kuta dan Denpasar?



Namun, pikiran itu lenyap setelah saya melihat deretan mobil Volkswagen Germany 1972 dan Mexico 1973 di depan hotel. Ternyata, kelilingnya naik mobil klasik.

KONVOI: Mobil-mobil antik berkeliling Kuta sampai masuk ke gang-gang. (Farid S. Maulana/Jawa Pos)

Panas? Tentu saja. Tapi seru! Konvoi mobil begitu, saya dan rombongan jadi pusat perhatian. Padahal, artis juga bukan. Hehehe… Rong-rongan mesin tua VW Jerman 1972 dan Mexico 1973 menjadi backsound yang luar biasa di tengah padatnya lalu lintas Kuta. Mobil yang kami tumpangi melewati gang-gang kecil di Kuta.

Siangnya, kami mengunjungi Stark Craft Beer House. Restoran tersebut jadi pusat penjualan Stark, merek bir asli Bali, yang diolah tanpa mesin. Saya ngobrol sedikit dengan FB Manager Stark Craft Beer House Donny Umbob. Dia menjelaskan, bir di restoran itu memiliki kadar alkohol 4,9–5 persen. Untuk beberapa varian, ada pula yang rendah gula.

Esoknya, saya dan rombongan mengunjungi Ground Zero alias Tugu Peringatan Bom Bali. Kebetulan, hari itu merupakan peringatan 17 tahun tragedi bom Bali yang menewaskan lebih dari 200 orang.

DI TEPI PANTAI: Suasana malam di Kuta Beach carnival. Bukan hanya turis lokal, turis mancanegara pun memadati venue. (Farid S. Maulana/Jawa Pos)

Berjalan kaki sekitar 500 meter menuju lokasi, kami menikmati pemandangan yang cukup membuat mata berkaca-kaca. Mulai dari anak-anak muda yang menjejerkan lilin di sekitar tugu hingga keluarga korban bom Bali yang meletakkan berbagai foto dan karangan bunga. Malamnya, Ground Zero terlihat lebih ’’tenang’’. Semua orang bersila mengelilingi tugu tersebut, sembari berdoa bersama pemuka agama.

Hari terakhir adalah gongnya. Puncak Kuta Beach Festival digelar. Saya menikmati sunset yang indah sambil makan beef burger plus bir dingin Bali yang nikmat.

Kami juga menyaksikan sajian musik yang megah. Band-band lokal mendominasi panggung. Mulai Navicula, Devildice, sampai The Dissland. Saint Loco, band rock asal ibu kota, turut memeriahkan penutupan event Kuta Beach Festival. Kami pun larut, berpesta hingga dini hari.

BERDOA: Dua pria berdoa di depan Tugu Peringatan Bom Bali. (Farid S. Maulana/Jawa Pos)
BANYAK BAND LOKAL: Panggung musik Kuta Beach Festival diramaikan penampil yang menghibur ribuan penonton. (Farid S. Maulana/Jawa Pos)


Hai travelers, punya pengalaman berlibur seru dan ekstrem? Melakukan solo traveling dengan uang pas-pasan atau memilih rute yang tidak biasa tentu menjadi pengalaman menantang dan tidak terlupakan. Setiap orang pasti punya kisah yang berbeda. Ceritakanlah pengalaman tersebut melalui e-mail traveling@jawapos.co.id dalam tulisan. Maksimal 500 kata. Sertakan pula tip liburan ala Anda. Lampirkan foto paling keren dan seru saat berlibur (minimal 500 KB). Jangan lupa lampirkan scan kartu identitas dan nomor telepon dalam e-mail tersebut. Cowok atau cewek boleh ikut menulis. So, tunggu apa lagi? Share yours! (*)