Belanja Durian di Pasar Pagotan Madiun, Borongan Lebih Miring

Belanja Durian di Pasar Pagotan Madiun, Borongan Lebih Miring

Tak hanya kaya akan ragam varietas lokal unggulan, Jatim juga memiliki sejumlah pasar durian yang jadi tempat berburu bagi para penggemar. Salah satunya di Madiun.

BAGI para pemburu durian, nama Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, boleh jadi sudah tak asing lagi. Sebab, di sana, mereka bisa memperoleh aneka ragam durian dengan mudah. Mulai lokalan hingga manca.

Selain bisa datang langsung ke sentra-sentra budi daya yang tersebar di sana, para durian lovers bisa berburu di Pasar Durian Pagotan. Sebuah pasar yang terletak di Jalan Pagotan, tepatnya di sebelah selatan Pabrik Gula Pagotan.

Pasar tersebut sangat terkenal karena sudah ada puluhan tahun. Banyak pembeli dari kota atau yang sedang melintas di Jalan Raya Geger–Madiun yang sengaja mampir. Karena pasar itu sudah terkenal sebagai sentra durian.

Lokasi pasar durian tersebut cukup unik. Berada di persimpangan jalur kereta lori tebu yang masih aktif. Tapi jangan khawatir, jalur itu baru aktif ketika memasuki musim panen tebu, yakni sekitar Mei.

Pada tiap musim durian, deretan lapak digelar para pedagang di sepanjang jalan. Saat fajar mulai menyapa, aneka durian sudah tertata rapi. Mulai yang seukuran telapak tangan hingga kepala orang dewasa.

Pasar tersebut jadi pusat berkumpulnya aneka durian asal Madiun. Mayoritas berasal dari Desa Segulung, Kecamatan Dagangan. Tapi, banyak juga durian dari kecamatan lain. Mulai Dolopo hingga Kare.

Salah seorang penjual yang cukup legendaris di pasar itu adalah Mbah Diem. Nenek 80 tahun tersebut sudah lebih dari 15 tahun berdagang di sana. ’’Yang saya jual dari Segulung. Ada yang mengirim langsung. Rata-rata habis sampai 50 buah per hari,’’ ujar nenek tujuh cucu itu.

Bagi para pencinta durian yang ingin datang ke sana, waktu berburu yang paling pas adalah saat subuh hingga pagi. Sebab, di waktu itulah stok durian melimpah. Karena baru saja tiba. Aktivitas pasar tersebut biasanya ramai hingga pukul 17.00. Setelah jam itu, jumlah pedagang mulai berkurang.

Namun, terkadang ada juga penjual yang baru datang sore. Kebanyakan adalah penjual durian yang memiliki pohon sendiri. Alias hasil panen pribadi. ’’Tetapi, jumlahnya tidak banyak. Soalnya biasanya kami mengandalkan buah yang jatuh, bukan panen,’’ ujar Agung Sujono, pedagang lain.

Harga yang dibanderol pun cukup murah. Bergantung seberapa besar dan bagaimana kualitas buahnya. Rata-rata antara Rp 25 ribu hingga Rp 100 ribu per buah. Namun, itu bukan harga paten, masih bisa dinego. Kalau mau lebih murah, harus membeli secara borongan. ’’Jatuhnya lebih murah,’’ ujar Christiana Leimana, salah seorang pembeli asal Madiun.