es durian dempo no 7 sudah berdiri sejak tahun 1978, hingga kini es durian ini tetap jadi favorit

MALANG KOTA – Nama es teler milik Sri Wahyuni ini bisa dibilang tidak neko-neko. Nama yang digunakan hanya nama Es Teler Dempo Nomor 7. Untuk Dempo, tentu saja merujuk pada sekolah yang berdempetan dengan SMAK Santo Albertus Malang atau yang biasa disebut dengan Dempo.

Sedangkan untuk nomor tujuh, Sri beranggapan kalau ayahnya, Supandi saat itu menamakan es tersebut agar mudah diingat pengunjungnya. Apalagi, di daerah tersebut ada puluhan penjual es yang kebanyakan juga mengandalkan duren sebagai menu utama.

Selain itu, jika dihitung dari Selatan, warung milik Sri memang berada di nomor tujuh. ”Sebagai ciri khas kami, agar orang tidak salah tempat,” papar Sri Wahyuni.

Sri sendiri mulai terjun membantu warung sejak dia kecil. Saat ayahnya meninggal tahun 1998, dia penuh membantu ibunya, Suria. Kini Suria sudah lanjut usia, sehingga kendali penjualan dipegang oleh Sri. Suria hanya membantu semampunya. Seperti membersihkan mangkuk, sendok, dan lain-lain.

Sedangkan untuk orang yang membantu Sri, semuanya adalah anggota keluarga. ”Daripada uang untuk orang lain, lebih baik buat keluarga sendiri,” ujar Sri. Dia kerap dibantu oleh sepupunya, Icuk, 35, dan anaknya sendiri, Adi Firmansyah, 20. Karena Adi saat ini telah lulus SMA, dia fokus bekerja membantu Sri.

Adi memaparkan bahwa meski sudah lulus SMA, dia berencana fokus di usaha keluarga agar dapat membuka cabang di tempat lain. ”Agar lebih berkembang,” katanya.

Sementara itu, salah seorang pembeli, Afifah Wanda,13, saat diwawancarai Sabtu (30/1) lalu mengaku puas dengan kelezatan durian dempo. ”Saya baru nyoba sekali setelah direkomendasikan sama teman. Ternyata enak banget esnya,” kata siswi SMP Brawijaya Smart School ini.

Pewarta: Lizya Oktavia
Penyunting: Irham Thoriq
Foto: Darmono