Bisnis Kuliner Kota Malang Tumbuh 30 Persen

MALANG KOTA – Kehadiran puluhan ribu mahasiswa baru (maba) di Kota Malang memang menjadi peluang ‘emas’ untuk membuka usaha di bidang kuliner. Tak heran jika dalam dua tahun terakhir ini, pertumbuhan restoran dan kafe meningkat pesat.

Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) Malang sepanjang tahun 2015 lalu mencatat, untuk pertumbuhan kafe dan restoran naik 30 persen daripada tahun 2014 lalu. Yang menggembirakan pebisnis kuliner, meski jumlah restoran dan kafe semakin banyak, tetapi pengunjungnya juga sama-sama ramai.

Humas Apkrindo Malang Daniel Indrapribadi mengatakan, tercatat kenaikan 30 persen itu sebanyak 15 hingga 20 restoran dan kafe di tahun 2015. Di antara dua tempat itu, yang lebih mendominasi adalah kafe. ”Jika ada 10 tempat baru, maka 7 adalah kafe dan 3 restoran,” terangnya.

Dia melanjutkan, dengan hadirnya maba, memang selalu memberi dampak pada berkembangnya usaha kuliner di Malang, terlebih usaha kafe. Karena yang lebih mendominasi tumbuhnya usaha di Malang saat ini.

Dan sepertinya pertumbuhan di dunia usaha kuliner tahun 2016 bakal bertambah dibandingkan tahun 2015. Hingga tahun 2015 lalu, yang masuk dalam Apkrindo Malang ada 50 kafe dan restoran dari menengah bawah sampai atas.



”Di tahun ini kami lebih optimistis akan terus tumbuh, dengan kreativitas pengusaha yang juga harus dibarengi dengan inovasi,” kata Daniel.

Untuk itu, pihaknya juga menginginkan di tahun ini ada sinergi dari Pemerintah Kota (Pemkot) Malang untuk bekerja sama dengan Apkrindo. Seperti lebih dipermudah dalam masalah perizinan. Itu adalah salah satu faktor yang memperlambat berdirinya usaha.

Sementara itu, keberadaan kafe dan restoran di Kota Malang juga menjadi salah satu objek wisata kuliner yang diminati banyak wisatawan dari luar kota. Maka tak heran jika banyak kafe yang dikonsep arstistik dan nyaman untuk kongkow-kongkow.

Terpisah, Sarah Salsabila owner kafe Cotton Inc dan Key Labs Malang mengatakan, sejak tahun 2015 memang gencar pengusaha baru yang membuka usaha kuliner. Supaya tidak tergeser kafenya dia terus mencoba mengembangkan inovasi dan kreativitas dalam kulinernya.

Dan anti mainstream, dengan itu dia percaya usaha yang baru dibangunnya pada tahun 2015 itu mampu bersaing di pasar kuliner kafe di Malang. ”Sekarang itu usaha kuliner banyak, jadi pelaku usaha dituntut terus berinovasi supaya konsumen tidak pindah ke tempat lainnya,” terangnya. (irr/c1/lid)