Ceker Berlumur Rica-Rica, Ludes Hanya Empat Jam

Berbekal referensi bumbu orang tuanya, Tri Prihartono merintis usaha sego ceker yang tidak biasa. Selain nasi uduk yang dimasak dengan daun, warung ini juga mengandalkan bumbu kecap rica-rica. Harus cepat jika mengunjungi warung ini jika tidak ingin kehabisan.

INOVATIF: Pendiri sego ceker warung bunderan Tri Prihartono menunjukan ceker hasil kreasinya.

Beberapa tahun terakhir, kuliner ceker seolah ‘meledak’ di Kota Malang. Pada malam hari, di sudut-sudut kota dan juga di pinggir-pinggir jalan, cukup banyak penjual ceker. Masakannya juga nyaris sama, yakni ceker diolah dengan bumbu berlumur cabai. Kalau tidak begitu, diolah dengan bumbu kare.

Tapi, nasi ceker di Jalan Panglima Sudirman, Kota Malang, atau disebelah selatan bunderan SMPN 5 Kota Malang ini menawarkan sensasi berbeda dalam memakan ceker. Lantaran, ceker, sayap, dan kepala yang disajikan dibakar.

Setelah dibakar, ceker lalu dilumuri bumbu kecap rica-rica. Karena inilah, warung sederhana tersebut diberi nama Sego Ceker Kecap Rica-Rica Bakar. Selain itu, karena posisinya juga di dekat bunderan, warung ini juga biasa diberi nama Warung Bunderan.

Untuk rasa juga maknyus. Dengan tekstur daging yang lembut, ketika digigit cukup maknyus. Bumbu rica-rica yang tidak terlalu pedas, kian melengkapi kelezatan makan ceker di tempat tersebut.

Hanya saja, bagi Anda yang ingin menikmati makanan di tempat ini, perlu cepat-cepat jika tidak ingin kehabisan. Warung ini buka setiap pukul 19.00 dan sudah tutup pukul 24.00. Bahkan, jika ceker, sayap, dan kepala ayam sudah habis, maka warung tersebut sudah tutup.



Untuk warungnya juga terkesan sederhana, karena hanya berada di depan sebuah bangunan. Tempat makannya juga lesehan dengan beralasan karpet dan meja yang dijejer-jejer.

Tri Prihartono, pemilik Sego Ceker Warung Bunderan mengatakan, dirinya sudah delapan tahun berbisnis kuliner ceker yang tidak biasa tersebut. ”Saya sejak tahun 2008 sudah jualan nasi ceker bakar di sini,” katanya kepada Jawa Pos Radar Malang, Rabu malam (13/4) lalu.

Dia menjelaskan, sebelum berjualan nasi ceker bakar, dirinya merupakan penjual STMJ (susu telor madu jahe). ”Tahun 2003 hingga 2008 saya berjualan STMJ,” imbuh laki-laki asli Malang itu. Tapi, karena harga sewa tempat yang dipakainya untuk berjualan terus mengalami peningkatan, akhirnya dia memutar otak untuk mencari ide agar mendapatkan uang tambahan.

Berawal dari temannya yang berjualan ceker, Tri mempunyai keinginan untuk ikut berjualan ceker. Tapi pada saat itu sudah banyak pesaing yang berjualan ceker dengan varian dan rasa yang sama. ”Rata-rata hanya direbus dan pakai kuah kare,” terang bapak satu anak itu.

Kemudian dia melakukan survei di beberapa tempat seperti daerah Glintung, Tlogomas, dan Dinoyo untuk melihat apakah ceker yang mereka jual sama atau tidak. ”Semuanya sama, pakai kuah kare,” tukasnya.

Oleh karena itu, dia mencoba untuk memunculkan inovasi baru pengolahan ceker. ”Awalnya saya coba bakar, pakai bumbu resep dari ibu saya,” papar pria kelahiran 28 Maret 1976 tersebut.

Selain dibakar, perbedaan ceker Tri dan ceker yang lain yaitu pada bumbu ketika disajikan. Dia memakai bumbu pedas yang dicampur dengan daun kemangi. Sehingga, menimbulkan aroma dan rasa yang lebih segar. Selain itu, juga tidak menimbulkan bau amis.

Berawal dari itulah, kemudian dia bersama kakak kandungnya, Prayekti Dwi Purwanti mencoba untuk menjual ceker tersebut di warung STMJ-nya. ”Awalnya hanya bawa 1 kg isinya ceker, sayap, dan kepala,” ucap dia. Dia menberanikan diri untuk menjual makanan inovasinya tersebut kepada pelanggannya. Tidak disangka, ternyata respons pelanggan positif.

Mulai dari situlah dia akhirnya terus berjualan ceker bakar pedas hingga sekarang. Tidak hanya cekernya yang beda dari yang lain, makanan pendamping ceker juga dibuat lebih bervariasi. Yakni dia menyajikan nasi uduk yang dibungkus dengan daun pisang. ”Awalnya mau pakai daun jati, tapi susah nyarinya. Akhirnya pakai daun pisang yang ada di pekarangan rumah,” beber dia.

Nasi yang dibungkus daun pisang memang menimbulkan rasa yang berbeda. Selain itu, juga membuat si penikmat ketagihan untuk memakannya. ”Banyak pelanggan yang suka sama nasinya. Lebih gurih katanya,” ujar dia.

Setiap harinya, dia menjual 10 kilogram campuran ceker, sayap, dan kepala. Sedangkan untuk nasi, biasanya dia membawa 50 bungkus nasi dari rumah. ”Alhamdulillah selalu habis,” ucapnya. Dia mengungkapkan, dagangannya selalu diburu pembeli. Bahkan, dagangannya biasanya sudah habis pada pukul 22.30.

Selama delapan tahun berjualan ceker, dirinya tidak pernah mendapatkan komplain mengenai rasa dari ceker tersebut. Justru semakin banyak pelanggan yang datang. Rata-rata pelanggannya merupakan orang bermobil. Usianya mulai dari anak-anak hingga orang tua.(Fisca Tanjung/c1/riq)