Cita-Cita Bikin Kafe Terwujud setelah Patah Hati

Kafe bertema Islami yang dirintis Atho’illah sejak 2015 ini mungkin menjadi satu-satunya di Malang Raya. Di tempat itu, pengunjung tak hanya bisa menikmati sajian makanan dan minuman yang ditawarkan. Secara berkala, dakwah dan diskusi Islami juga digelar di sini.

Daksi Coffee. Begitulah nama kafe milik Atho’illah yang beralamat di Jalan Gajayana Nomor 50, Kelurahan Dinoyo, Kota Malang. Kafe itu menempati bangunan seluas 4×10 meter dan bisa menampung sekitar 20 orang. Tidak begitu luas memang. Selain itu, daya tampungnya juga tidak besar.

Namun, dari kafe ini, ada sebuah harapan besar yang dibangun oleh sang pemilik. Itu bisa dilihat dari arti nama Daksi Coffee. ”Daksi itu sebenarnya akronim dari dakwah dan motivasi,” ujar Atho’illah. Daksi Coffee juga mengusung tagline atau moto yang dicantumkan di bagian bawah logo. Yakni, Inspiration for All (inspirasi untuk semua).

Karena tujuannya adalah menginspirasi, maka Atho’illah sengaja memajang sejumlah buku di kafe tersebut. Buku-buku itu kebanyakan tentang Islam dan motivasi.

Beberapa di antaranya ditulis sendiri oleh Atho’illah. Ya, sebelum merintis Daksi Coffee, Atho’illah sudah lebih dulu menjadi seorang penulis. ”Saya mulai rajin menulis buku setelah patah hati di tahun 2012 lalu. Intinya, saya ingin membuktikan bahwa tanpa seorang kekasih pun saya bisa sukses,” kenangnya.



Sejak 2012, hingga kini, dia sudah menerbitkan lima judul buku. Yakni, Integrasi Berpikir; “Seksi” Siapa Takut; Menjadi Manusia Sesungguhnya; Jalanku Mencintai Al Qur’an; dan Selamat Tinggal Pacaran, Selamat Datang di Pelaminan.

Bahkan, berkat buku Menjadi Manusia Sesungguhnya, Atho’illah bisa mewujudkan cita-citanya membuka kafe. Buku yang diterbitkan oleh penerbit Lentera Jogjakarta pada 2015 itu mendapatkan apresiasi dari banyak kalangan.

Bahkan, buku itu juga diapresiasi oleh Presiden RI keenam, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Lewat Instagram miliknya, yakni @athock_illah, dia mengunggah foto SBY saat memegang buku tersebut.

Apresiasi itu sejalan dengan nominal rupiah yang diperoleh Atho’illah dari buku Menjadi Manusia Sesungguhnya. ”Saya dapat royalti sampai Rp 25 juta. Itu saya gunakan sebagai modal untuk membuka kafe,” ujar pria kelahiran Lumajang, 5 Januari 1993 ini.

Sejak awal, dia ingin membuka kafe dengan konsep Islami. ”Biar beda dari kafe lainnya. Selama ini, saya melihat banyak kafe yang hanya jadi tempat nongkrong dan pacaran. Saya ingin mengubah image itu,” kata dia.

Karena konsep Islami itulah, Daksi Coffee mendapatkan kehormatan saat diresmikan Wali Kota Malang Moch. Anton, April 2016 lalu. Sebenarnya, apa yang membuat Daksi Coffee istimewa?

Karena mengusung tema Islami, maka berbagai hal yang ada di kafe itu harus bernuansa Islami. Selain buku-buku, penamaan menu makanan dan minumannya juga Islami. Di antaranya, Kopi Hamdallah, Kopi Subhanallah, hingga Mie Masya Allah.

Bahkan, kafe ini juga rutin mengadakan kegiatan bernuansa Islam. Antara lain, seminar, talkshow, bedah buku, hingga khotmil (khataman) Alquran. ”Biasanya seminggu sekali selalu ada kegiatan yang digelar di kafe ini,” ujar mahasiswa semester 11 jurusan Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang ini.

Atho’illah menyatakan, siapa pun boleh mengikuti setiap kegiatan yang digelar di Daksi Coffee. Tidak ada biaya tambahan, kecuali membayar setiap makanan atau minuman yang dikonsumsi peserta.
Meski mengusung tema Islami, termasuk sejumlah kegiatan yang digelar, Daksi Coffee bukanlah kafe yang

eksklusif hanya untuk umat muslim. Atho’illah tidak pernah membatasi siapa saja yang boleh berkunjung ke kafenya. ”Bahkan, pernah ada teman-teman nonmuslim dari Universitas Kristen Indonesia (UKI) yang diskusi di tempat ini,” ujar alumnus SMA Pasiran, Lumajang tersebut.

Selain kafe, Atho’illah juga punya beberapa bisnis lainnya. Semuanya dia beri nama Daksi. Antara lain, Daksi Tour and Travel (jasa travel), Daksi Butik (toko pakaian), Daksi Book (toko buku), dan Daksi Edu (les privat). ”Sementara tempatnya masih di sini (jadi satu dengan Daksi Coffee),” kata dia.

Setelah Daksi-Daksi di atas, Atho’illah masih punya mimpi besar lainnya. ”Saya ingin punya Daksi Mart, Daksi Fried Chicken, juga Pesantren Daksi. Mungkin semuanya nanti di bawah Daksi Corporation,” pungkas dia.

Pewarta: Gigih Mazda Zakaria
Penyunting: Indra Mufarendra
Copy Editor: Indah Setyowati
Foto: Gigih Mazda Zakaria