Jika Anda sedang perjalanan ke Dampit, Kabupaten Malang, ada baiknya Anda mencicipi kuliner legendaris di salah satu kecamatan paling maju di Kabupaten Malang ini. Nama kuliner tersebut adalah Depot Sate Kambing Pak Di. Mencari depot atau warung ini juga tidak sulit, karena berada di seberang gerbang SDN 1 Dampit.

Dibilang legendaris, lantaran Depot Pak Di sudah berdiri sejak 1950 atau 67 tahun silam. Sate di depot ini begitu empuk dan gurih. Ketika digigit, dagingnya seperti lumer di lidah. Tak hanya soal rasa, dagingnya juga mudah ditarik dari tusuknya.

Gulainya pun demikian. Bau kambing yang menyengat juga tidak terasa. Rasanya semakin mantap, karena bumbunya beraroma kelapa. Aroma kelapa ini bersumber dari parutan kelapa yang disangrai, lalu dicampur dengan bumbu sate pada umumnya seperti kacang, bawang, dan kecap.

Sudah hampir tiga puluh tahun sang pendiri depot, yakni Sukardi, berpulang. Kendati demikian, depot yang dia rintis sejak 1950 ini eksis hingga kini. Ya, karena rasa yang tak pernah berubah itulah yang membuat depot ini tetap eksis.

Saat ini, Depot Sate Pak Di dikelola oleh generasi ketiga, Kustin Naning. Dia adalah istri Mustopo Irianto yang tak lain adalah cucu Sukardi. ”Sebelum 1950, kakek itu sudah mikul berjualan sate keliling pasar,” beber Kustin, sapaan akrab Kustin Naning.

Dia menceritakan, Sukardi telah berjualan sate sejak awal kemerdekaan. ”Baru, sekitar tahun 1950, kakek mendirikan warung di sini,” imbuh ibu dua anak itu.

Dia bercerita, sebelum sekarang ini dia mengelola Depot Sate Pak Di bersama almarhum suaminya. Namun, sejak suaminya meninggal pada tahun 2009 lalu, dia sepenuhnya mengelola depot tersebut sendirian dengan dibantu tiga pegawai. Meski menjadi penerus, tetapi perempuan kelahiran Dampit, 27 Juni 1968, ini bukanlah tidak memiliki pengalaman.

”Sejak tahun 1994 saya sudah berjualan sate di pasar (Dampit),” ungkap perempuan berusia 49 tahun itu.

Dia mengungkapkan bahwa resep yang digunakan adalah resep asli milik Sukardi. ”Resep dan menunya sebenarnya dari keluarga,” ungkap alumnus SDN 1 Dampit itu.

Resep bumbu yang khas tersebut ternyata berupa parutan kelapa yang telah disangrai dan ditumbuk hingga halus. ”Tidak hanya bumbu sate, bumbu gulainya juga menggunakan resep andalan ini,” tambah Kustin.

Ia juga menjelaskan bahwa bumbu kepala tersebut berbeda dengan santan kelapa. ”Santan ada sendiri. Beda dengan bumbu,” imbuh nenek dengan dua cucu ini.

Pewarta: Gigih Mazda
Penyunting: Irham Thoriq
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Gigih Mazda