Dulu Langganan Jepang, Rempah dari Lereng Semeru

Pasti ada yang istimewa dari susu telur madu jahe (STMJ) yang bisa bertahan lebih dari 30 tahun. Ya, inovasi memang jadi andalan STMJ Ramuan di Jagalan, Kota Malang. Seperti apa nikmatnya STMJ ini? 

 

Tidak ada tanda-tanda yang mencolok dari STMJ Ramuan yang berada di pojok pertigaan Jalan Halmahera, Kota Malang. Di warung yang jaraknya hanya selemparan batu dari warung tahu campur Jagalan yang legendaris itu, hanya ada papan putih bertuliskan menu minuman. Karena warungnya sederhana, jika sedang ramai, mungkin warung ini hanya cukup menampung 15–20 orang.

Warung ini sudah berdiri sejak 1980 silam atau 37 tahun lalu. Pemiliknya adalah Pujo Mulyono. Karena sudah lama menggeluti STMJ, dia tampak sudah hafal kesukaan setiap pelanggannya. ”Yang tidak ada di tempat lain (dari STMJ di sini) itu ramuannya,” kata Pak Ji –panggilan akrab Pujo Mulyono– kepada koran ini pekan lalu.

STMJ Ramuan ini berbeda dari tempat lain karena memiliki menu minuman yang disebut dengan ramuan. Di menu tertulis Ramuan Telur 1, Ramuan Telur 2, dan Ramuan Super Telur 3. Isi dari ramuan tersebut adalah kopi, susu, kuning telur, madu, jahe, serta campuran rempah-rempah (cengkeh, jinten, kapulaga, dan lada). ”Ramuan ini bagus untuk orang yang ingin menambah stamina. Biasanya, kalau ada yang mau berpergian jauh, kalau minum ramuan ini, dia jadi lebih kuat,” kata pria 69 tahun ini.



Saat wartawan koran ini mencoba STMJ ramuan, rasa hangat memang terasa sejak tegukan pertama. Sementara itu, untuk menu STMJ biasa, rempah-rempah  yang digunakan tetap sama. Namun, STMJ-nya tanpa kopi. Menurut Pak Ji, STMJ ini cocok diminum oleh orang-orang yang ingin tidur nyenyak. Komposisi minuman memang selalu disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan. Contohnya, untuk pelanggan seorang binaragawan, porsi telurnya bisa mencapai sembilan butir.

Yang pasti, banyak yang cocok dengan ramuan khas STMJ Jagalan ini. ”Ini resep turunan dari mbah saya. Katanya, dulu beliau juga sering membuatkan ramuan ini untuk orang-orang Jepang zaman dulu,” lanjutnya.

Resep dari mbahnya ini yang mengantarkan Pujo Mulyono berjualan STMJ kali pertama pada tahun 1980 di daerah Pasar Besar. Setelah mangkal di sana selama sepuluh tahun, STMJ Ramuan pindah ke daerah Jagalan pada tahun 1990, lantaran saat itu pasar besar direnovasi. ”Dari dulu, ya, gerobak ini yang saya pakai sampai sekarang,” ujar Pak Ji sambil menunjukkan ”ruang kerja”-nya tersebut.

Untuk menjaga kualitas bahan-bahannya, Pak Ji sampai menanam jahe, cengkeh, serta kapulaga bulat secara mandiri di Desa Taman Satriyan, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang. Kebetulan dia punya tanah di lereng Gunung Semeru tersebut. ”Saya nggak pernah merahasiakan bahan-bahan yang dipakai. Pembeli bisa melihat sendiri. Ndak ada bahan-bahan kimia lain yang dipakai,” kata pria asal Bantur ini.

Untuk bahan-bahan lain, STMJ Ramuan mengandalkan produksi lokal. Jahenya dari Sumbermanjing, susunya disuplai dari KUD Dau, kopinya dari Jalan Sutan Syahrir, sedangkan madu ternaknya diambil dari Tumpang. Dalam satu hari, STMJ Ramuan bisa menghabiskan 400 butir telur bebek dan 60 liter susu. Selain menjual STMJ dan ramuan, warung ini juga menyediakan menu lain seperti kopi jahe, jahe, dan susu telur madu.

Sementara itu, untuk urusan pelanggan, warung yang buka sejak pukul 16.00 hingga dini hari ini mempunyai pelanggan yang loyal. ”STMJ ndok limo (pakai lima telur). Sing penak, yo (yang enak, ya),” kata Marzuki, salah seorang pelanggan asal Jalan Muharto yang terlihat akrab. ”Tiap satu minggu sekali, saya pasti ke sini. Minum STMJ biar badannya nggak gampang masuk angin,” imbuh pria 35 tahun ini.

Ada pula Ansuri, ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Malang, yang sudah berlangganan sejak belasan tahun lalu. ”Kadang-kadang saya pesan STMJ yang telur dua atau tiga,” kata pria yang juga menjabat sebagai tourist informant di Toko ”Oen” ini.

Pewarta: Tabita Makitan
Penyunting: Irham Thoriq
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Rubianto