Durian Slumbung Kediri, Buah Bekas Gigitan Tupai Malah Diminati

Durian Slumbung Kediri, Buah Bekas Gigitan Tupai Malah Diminati

Dusun Slumbung dikenal sebagai salah satu ”lumbung” durian di Kabupaten Kediri. Aneka varietas lokal tumbuh di sana. Masing-masing mempunyai keunikan tersendiri.

MENYUSURI jalan dusun yang terletak di Desa Mlancu, Kecamatan Kandangan, para pengunjung begitu mudah menemui aneka pohon durian. Pohonnya menjulang di antara rimbunnya pohon rambutan, avokad, dan pete.

Hampir tiap keluarga di dusun itu memiliki pohon durian. Mulai di pekarangan rumah, petak sawah, hingga kebun. Jika diakumulasi, ada 2 ribu hektare lahan di dusun kawasan lereng Gunung Kelud itu yang digunakan untuk budi daya pohon yang satu ini.

Jenis duriannya juga banyak. Mayoritas adalah varietas lokal. Memang di sana bisa ditemui durian dari luar. Misalnya, montong. Namun, sebagian sudah disilangkan dengan jenis durian lokal.

Dulu sebagian besar petani durian di dusun tersebut menjualnya kepada para tengkulak. Namun, kini banyak di antara mereka yang memilih menjual langsung kepada konsumen. Sebab, durian-durian lokal asli Slumbung sudah cukup dikenal di kalangan pencinta durian.

Salah seorang petani itu adalah Priyanto. Sudah lima tahun terakhir, pria itu menjual durian hasil budi dayanya secara langsung. ”Selain bisa mengambil langsung dari kebun, pembeli juga bisa request durian terbaik. Dan pasti mudah didapat,” kata Priyanto.

Menurut dia, ada cukup banyak jenis durian slumbung. Masing-masing mempunyai kelebihan. Mulai durian tugu, pogag, plolo, rete, krucil, hingga podang. ”Setiap varian memiliki bentuk, warna, dan rasa yang berbeda satu sama lain,” katanya.

Durian tugu, misalnya. Varietas lokal yang satu ini memiliki rasa yang sangat manis. Tanpa ada rasa pahit sedikit pun. Daging buahnya juga cukup tebal. Berbeda dengan durian pogag yang memiliki rasa pahit lebih dominan.

Mau cari yang manis gurih seperti vanila juga ada. Sensasi tersebut bisa diperoleh dari durian rete. Keunggulan lain varian itu adalah ukuran daging buahnya yang jauh lebih besar. Cocok bagi penyuka durian dengan daging tebal.

Yang juga tak kalah unik adalah durian tupai. Bukan karena bentuknya yang mirip tupai, melainkan akibat gigitan hewan liar yang banyak tersebar di dusun itu.

Ciri buah tersebut adalah terdapat gowang (lubang) bekas gigitan. Selama tidak semua bagian juring rusak, biasanya petani akan membawanya. Meski berstatus bekas gigitan tupai, ternyata durian itu cukup diminati para penggemar. Sebab, jenis tersebut memiliki kelebihan tersendiri.

Apa itu? Menurut Eko Hermanto, petani durian dari Slumbung, bekas gigitan tupai menandakan bahwa kualitas buah itu sangat bagus. ”Sebab, kebiasaan tupai pasti mencari buah yang paling bagus untuk dimakan,” ujarnya.

Dari segi rasa, durian yang sudah digigit tupai pasti manis. Tekstur buahnya juga lebih matang maksimal. Karena itu, tak heran jika banyak penggemar yang mencarinya.

Karena seabrek keunggulan itu, para petani durian di dusun tersebut memilih mandiri. Mereka tak lagi mengandalkan tengkulak untuk memasarkannya. ”Selain bisa mengatur harga, identitas buah kami tidak khawatir. Sebab, biasanya tengkulak tidak bilang dari Slumbung saat menjualnya,” imbuh Priyanto.