Es Campur Pak Said di Jalan Gajah Mada, Kota Batu yang Legendaris

Sudah 62 tahun Mochamad Said berjualan es campur. Racikan Said dalam mengolah es campur, membuat pelanggannya banyak ketagihan. Dari pekerjaannya itu, dia bisa umrah dan menyekolahkan dua anaknya hingga sarjana.

Rabu (27/1) lalu sekitar pukul 11.00, terik matahari di langit Kota Batu sedang panas-panasnya. Mochamad Said yang kulitnya sudah mengeriput, cekatan mengambil satu per satu isi es campur.

Ketika itu, dia sudah meracik lima mangkuk es campur untuk para pembelinya.
Sesekali dia membenarkan kopiahnya yang menjadi ciri khas Said saat berjualan es campur. Meski berkopiah, terlihat jelas kalau uban memenuhi rambut Said. ”Arek ayu (gadis cantik, red), ini isinya mau apa saja,” kata Said menyapa salah seorang pembeli.

Bagi penggemar es campur di Kota Wisata Batu, Es Campur Pak Said di Jalan Gajah Mada, Kota Batu atau berada persis di sebelah Masjid An Nur cukup populer. Es campur ini sudah berdiri sejak 62 tahun silam atau sejak 1954. Kala itu, Kota Batu masih bergabung dengan Kabupaten Malang.

Dia lantas menceritakan asal muasal Es Campur Pak Said. Ketika itu, sekitar tahun 1950, dia belajar membuat es campur kepada pamannya, almarhum Markatam. Said membutuhkan waktu sekitar empat tahun untuk belajar es campur ke Markatam.

Nah, baru ketika berusia 16 tahun atau pada tahun 1954, Said mulai membuka usaha es campur. Saat ditanya kenapa dia memilih es campur, alasannya sederhana. Yakni karena ketika itu Said hanya bisa membuat es campur. ”Saya itu tidak suka memasak, tapi sukanya cuma membuat es campur. Dan ini salah satu kemampuan saya,” ujar pria kelahiran 77 tahun silam ini mengenang masa lalunya lantas tersenyum lebar.

Ketika itu, dia bermodalkan uang Rp 90 ribu plus sebuah gerobak. Dia pertama kali berjualan di Pasar Kota Batu, yang saat ini sudah berubah menjadi alun-alun. Di tempat ini, dia berjualan menggunakan gerobak lalu berpindah membuat kios di Pasar Rombengan. Saat itu banyak konsumen yang membeli di sana.

Lalu karena sering digusur oleh pemerintah, akhirnya dia tetap menjual es campurnya di atas gerobak. Baru pada tahun 1985 dia menetap di Jalan Gajah Mada hingga sekarang. ”Saya sempat jengkel karena harus berpindah-pindah untuk mencari lokasi yang menjadi jujukan konsumen,” imbuh suami dari Kasiatun ini.

Keunggulan es ini, menurut Said, adalah adanya tape ketan hitam dalam es tersebut. Dipadu dengan es, susu, dan aneka macam isi lain, es bikinan Said ketika diseruput memberi sensasi tersendiri. Manisnya juga lebih alami, karena Said selalu memakai gula murni dan tidak pernah menggunakan pemanis buatan. ”Dari berdiri, saya selalu pakai ketan hitam,” ucapnya.

Selain kenikmatannya, hal menarik lain adalah harga es ini berbeda antara pembeli umum dengan pelajar. Saat ini, harga es Said untuk pembeli umum Rp 4.000, dan Rp 2.500 untuk pelajar. Bahkan, menurut Said, ketika ada pelajar yang hanya menemani temannya membeli es, dia biasanya menggeratiskan. ”Karena saya ingin berbagi,” urai pria dua orang anak ini.

Ada hal lucu perihal aktivitas Said yang memberi keistimewaan bagi pembeli pelajar ini. ”Pernah tahun 1973, pembelinya anak sekolah. Siswa ini meminta kembalian uang kepada saya. Seminggu kemudian dia datang lagi mengembalikan uang yang saya berikan. Ternyata anak itu ketika itu tidak membayar, malah minta kembalian,” kata Said sambil tertawa terbahak-bahak.

Selama 62 tahun konsisten menjual es campur, dia mampu membantu perekonomian keluarga hingga kedua anaknya sarjana. Tidak hanya itu, pada 2014 lalu, Said bisa umrah ke Tanah Suci Makkah. ”Dari es campur, saya berjuang menyekolahkan anak hingga kuliah,” pungkasnya.

Pewarta: Irsya Richa
Penyunting: Irham Thoriq
Foto: Falahi Mubarok