Habiskan 100 Ayam Kampung Per Hari

Kehidupan Sukaeni, pemilik Warung Soto Ambengan bak roller coaster. Hidupnya yang awalnya penuh kekurangan, sekarang sudah berkecukupan berkat soto yang dia jual. Salah satu andalan Sukaeni adalah bumbu warisan mertuanya. Pelanggan sering heran karena harga yang terlampau murah.

Pemilik Warung Soto Ambengan bak roller coaster

Sore kemarin (28/4), Warung Soto Ayam Ambengan di Jalan Patimura, Kota Malang, riuh dengan pembeli. Mayoritas yang berkunjung ke warung yang berada di belakang Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) ini menggunakan mobil. Warung tersebut terlihat bersih, karyawannya pun berseragam rapi.

Meski demikian, untuk urusan harga, warung soto ini sangat bersahabat. Soto ini dijual dengan harga mulai Rp 10 ribu saja. Mulai dari suwir ayam, telur rebus, dan aneka macam pelengkap lain sebagaimana soto pada umumnya, tersaji dalam satu mangkuk. ”Harga tersebut sudah kami pertahankan selama tiga tahun. Tujuannya biar tidak ditinggal pelanggan,” kata pemilik Warung Soto Ayam Ambengan, Sukaeni, 50, kepada koran ini, kemarin.

Tak heran, setiap hari, perempuan yang akrab disapa Keni tersebut menghabiskan 100 ayam kampung yang didatangkan dari Kepanjen. Demi menjaga kesegaran daging, dia sengaja membeli dalam keadaan hidup lalu dipotong sendiri.

Ayam kampung segar ini kemudian dia masak selama empat jam bersama bumbu soto seperti kunir, bawang merah, bawang putih, jinten, serai, dan ketumbar. Hasil dari rebusan ini yang kemudian memberikan rasa pada kuahnya yang murni dari kaldu.

Selain itu, karena waktu perebusan lumayan lama, dagingnya empuk. Kuah yang berbaur dengan bumbu, membuat rasanya cocok di lidah para penggemar soto. ”Resep tersebut warisan mertua saya bernama Haji Saban. Dulu beliau yang memulai berdagang soto dengan cara dipikul,” jelas wanita asal Lamongan ini.



Haji Saban memulai usaha soto dengan dipikul berkeliling Kota Surabaya sejak tahun 1965. Setelah mengumpulkan modal, beberapa tahun kemudian Saban berhasil membuka warung yang awalnya dikontrak di Jalan Ambengan Surabaya. Dari sinilah nama Ambengan berasal, kemudian cara memasak soto ini diwariskan pada anak dan saudaranya. Karena sejarah ini, Soto Ambengan di Jalan Patimura juga diberi imbuhan kata Asli Surabaya untuk menunjukkan soto ini benar-benar asli dari Kota Pahlawan tersebut.

Keni melanjutkan, dia pindah ke Malang sejak tahun 1980-an. Tahun pastinya Keni sudah lupa, karena sudah sangat lama. Ketika itu, dia dengan suaminya, almarhum Sunandar menumpang untuk berjualan soto di rumah adiknya di Jalan Patimura.

Rupanya, usaha tersebut kian lancar. Pada tahun 1999, Keni berhasil membeli rumah di Jalan Patimura Nomor 9, Kota Malang. Kemudian pada tahun 2000 warung soto yang sebelumnya menumpang berjualan di rumah adiknya, pindah ke rumah Keni sendiri. Sejak tahun 2000, warung tersebut tidak pernah pindah tempat.

Berkat usaha warung ini juga, Keni berhasil menjadi pengusaha kos dengan 16 kamar. Kini, pemasukan Keni selain dari soto juga dari usaha kos-kosannya yang ada di belakang RSSA Kota Malang. ”Alhamdulillah semuanya berawal dari soto,” ujar ibu dua anak ini.

Berkembang pesatnya kuliner Keni membuat pelanggannya dari berbagai kalangan. Pemain Arema Cronus seperti  dan I Made Sukadana adalah pelanggan setia warung ini. Di kalangan artis, ada nama anggota Srimulat Nunung, almarhum Mamik Prakoso, dan Tarzan. Dari kalangan pimpinan daerah, eks Kapolres Malang Kota AKBP Singgamata juga pelanggan setianya.

Menurut Keni, komentar mereka hampir sama, yakni mengenai harga yang terlampau murah. ”Banyak yang heran sama harganya yang murah dan rasanya enak,” jelas ibu dari Dedy Setiawan ini.

Sedangkan khusus pemain Arema, sebelum bergulirnya turnamen Piala Bhayangkara, suami Keni yang sekarang yakni Syaiful, sempat menantang para pemain. Saiful menantang jika Arema juara akan diberi makan soto gratis. Karena Arema juara, nazar itu sudah dilaksanakan oleh Saiful. ”Sudah saya traktir semua satu bis, kami turut senang Arema juara,” imbuhnya.(ded/c1/riq)