Matahari mulai beranjak naik siang kemarin (1/2). Kuliner legendaris yang dikenal dengan nama Jenang Madura itu sibuk melayani pembeli. Meski lapak jualan bubur di Jalan Kiai Tamin, Kota Malang, ini termasuk kategori pedagang kaki lima, tapi jangan remehkan rasanya. Nendang!

Di lokasi jualan, empat panci berukuran besar penuh dengan aneka macam bubur. Ada jenang sumsum, grendul, ketan hitam, dan santan yang juga diolah menjadi bubur. Aneka macam bubur ini bisa dikombinasikan sesuai selera pembeli.

Jika bubur di Jawa biasanya begitu encer, bubur sumsum di sini teksturnya seperti daging kenyal dengan rasanya yang gurih. Grendulnya juga tak kalah, begitu empuk, seakan langsung meleleh di lidah. Ketan hitamnya juga dimasak dengan kematangan yang pas.

Namun, yang paling menarik adalah bubur santannya. Jika biasanya bubur dipadu dengan santan encer, tidak demikian di tempat ini. Sebab, santannya juga diolah menjadi bubur. Cocok jika dipadu dengan bubur lain yang dipilih.

Darsono, suami dari Arum alias si pedagang bubur, mengatakan bahwa bubur santan tersebut memang digunakan sebagai santan.

”Dulunya (pakai) santan (biasa). Tapi santan mudah basi. Akhirnya kami ciptakan sebuah inovasi,” katanya. Dengan santan inovasinya itu, buburnya bisa tahan lebih lama. ”Jadi, dibeli pagi, disantap malam pun tidak akan basi,” bebernya.

Mengenai harga, bubur di sini juga bisa dibilang ramah di kantong. Cukup dengan Rp 4.000, satu porsi bubur sudah bisa langsung disantap. Karena tempatnya terbatas, pembeli bubur di tempat ini kebanyakan membungkus pesanan mereka.

Kuliner jalanan ini merupakan jajanan yang legendaris. Sebab, lapak ini sudah ada sejak tahun 1980. Aartinya, sudah eksis hampir empat dekade. Sama halnya seperti 38 tahun lalu, lapak ini hingga sekarang juga masih pedagang kaki lima, di emperan sebuah toko. Amat sederhana.

Meski sudah lama berjualan, tetapi Arum tak kunjung membuka warung yang layak karena satu alasan. Yakni, pelanggan setianya. ”Kalau tiba-tiba pindah, nanti banyak orang yang mencari,” ujar Darsono. Sebab, berjualan di tempat itu banyak dilalui oleh para pejalan kaki yang lalu lalang.

Darsono menceritakan, lapak itu dimulai oleh istrinya. ”Jadi, istri saya dulu yang memulai ini (jualan bubur, Red) tahun 1980-an,” jelasnya.

Lapaknya berpindah-pindah dari depan satu toko ke toko lainnya. ”Kami bergeser terus. Tapi tetap berada di lokasi yang tidak jauh,” imbuh pria 53 tahun ini.

Lapaknya sendiri sudah begeser tiga kali. Pertama, di depan Toko Mekar Sari, kemudian ke Toko Subur, dan sekarang di depan Toko Goldia. Semuanya berada di Jalan Kiai Tamin.

Bubur buatannya tersebut bahkan pernah dijual di mal-mal. ”Ada yang pesan untuk mereka jual lagi,” kata Darsono. Buburnya pernah beredar di Sarinah, Matahari Mall, dan Mal Olympic Garden.

Sementara itu, salah satu pelanggan bernama Merry mengungkapkan bahwa dirinya sudah bertahun-tahun membeli bubur di tempat itu. ”Sejak putra saya masih TK (taman kanak-kanan) saya sering ke sini,” ucap ibu yang kini putranya sudah duduk di bangku kelas dua SMA itu.

Saat ini dia mengaku jarang membeli bubur karena alasan geografis. Tapi, dia sering kangen beli bubur di tempat itu. ”Soalnya anak saya sekolah di Batu. Jadi jarang ke sini,” imbuhnya.

Perihal rasa, menurut dia, bubur ini tidak pernah berubah rasa. ”Tidak ada duanya. Rasanya enak banget,” tandas warga Landungsari itu.

Pewarta: Gigih Mazda
Penyunting: Irham Thoriq
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Darmono