Bagi warga Malang, nasi buk sudah masuk daftar kuliner yang ngangenin. Meski sebenarnya makanan ini dari Madura, namun sarapan nasi lodeh dengan beragam pilihan lauk ini sudah jadi rutinitas warga. Salah satunya adalah nasi buk Latifah, seorang penjual yang mangkal di trotoar depan Pasar Besar Malang.

Tak ada tenda. Hanya dua bakul berisi nasi dan lauk pauk yang setiap hari dibawa Latifah untuk berdagang. Selebihnya, perempuan berusia 50 tahun itu lesehan atau duduk di kursi mini. Sebelum jam 6 pagi, dia sudah nongkrong di pojokan depan Pasar Besar atau berseberangan dengan toko Altara.

Tak perlu menunggu lama, pelanggannya langsung berduyun-duyun menghampiri tempat Latifah berjualan. Berbagai lauk yang numpuk di atas baki hijau-putih miliknya satu per satu pindah ke piring pembeli.

”Pake daging, jeroan, tahu, pake sambal juga ya Bu,” ujar seorang pelanggan yang memesan sarapan.

Dengan sigap, ibu lima anak itu meraih lauk yang diminta pelanggannya. Dalam hitungan detik, pincuk nasi buk sudah disuguhkan Latifah kepada sang pembeli.

Sambil mengaduk-aduk kuah lodeh, sesekali Latifah bercengkerama dengan pelanggannya. Keakraban kental terasa dalam obrolan penjual dan pelanggannya itu. Bahkan, Latifah mengaku cukup hafal apa saja lauk favorit dan sebanyak apa nasi yang diinginkan setiap pelanggan setianya.

”Sejak jualan di sini, saya tidak pernah libur, kecuali bulan puasa,” terang Latifah.

Biasanya, dia mulai membuka lapak sekitar pukul 05.00 sampai menjelang siang, sekitar pukul 11.00. Namun, sering kali perempuan paro baya ini pulang lebih pagi. Baru pukul 9, dagangannya sudah ludes diborong pembeli yang hilir mudik bergantian.

”Namanya sudah lama, orang-orang kembali dan banyak yang suka. Bila dihitung-hitung, sudah sejak 2002 saya berdagang nasi buk,” kata Latifah.

Keuntungan yang diperoleh dari berjualan nasi buk dirasa lumayan. Pada awal dirinya berjualan, nasi buknya seharga Rp 3.500. Kini Latifah sudah mematok harga Rp 12.000 ke atas untuk tiap porsi, tergantung lauk apa yang dipesan pembeli. Resep masakan ini sendiri dia dapatkan dari orang tuanya yang asli Madura, tepatnya Bangkalan. Dulu, ibunya juga berjualan nasi buk.

”Saya generasi kedua. Dulu ibu juga jualannya dengan berkeliling dan menjinjing nasi buk di kepala,” kenang Latifah.

Tidak seperti ibunya, Latifah milih menetap di Pasar Besar Malang. Sejak 16 tahun lalu. Latifah pun memilih berjualan setiap hari ketimbang libur. Jadi, setelah berjualan dia langsung membeli bahan untuk dimasak dan besok dijual kepada pelanggan setianya.

Pewarta: Elly Kartika
Penyunting: Achmad Yani
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Elly Kartika