Lebih Dekat Stefani Horison, Master Masak si Penggemar Nasi Bungkus

Lebih Dekat Stefani Horison, Master Masak si Penggemar Nasi Bungkus

JawaPos.com – Makan masakan buatan Fani, calon MasterChef Indonesia Season 5 merupakan hal yang tidak disangka. Bahkan, Fani terjun langsung ke dapur untuk membuat toast bread atau roti panggang, khusus untuk Radar Sampit (Jawa Pos Group) yang menjumpainya saat cuaca sedang hujan lebat, Sabtu (8/6) lalu. Membuat roti bakar bukan hal yang sulit bagi gadis berkulit putih itu.

“Masak apa ya? Yuk kita ke dapur, masak toast bread saja,” ajak Fani yang langsung menggelungkan rambutnya dikutip dari Radar Sampit (Jawa Pos Group), Rabu (12/6).

Fani kemudian menyingkirkan wajan berisi minyak goreng di atas kompor. Kemudian menggantinya dengan wajan bergagang yang memudahkannya memutar-mutar margarin yang sebelumnya sudah diletakkan di atas wajan tersebut.

Sesekali dia membolak-balikan roti itu. “Toast bread namanya. Kalau (bahasa) Indonesianya roti bakar ya,” ucap Fani tersenyum.

Senyumnya membentuk lesung pipi di bagian kanannya yang kian mempercantik wajah oriental gadis berdarah Cina, Dayak, dan Jawa itu. Tak perlu menunggu lama, roti bakar buatan Fani tersaji.

Tak lupa olesan selai di atasnya. Belum sempat roti buatannya kami cicipi, Fani membuka tudung saji di atas meja makan rumahnya.

“Pokoknya kalian harus cobain yang ini,” kata Fani.

Ada sambal acan, tumis kangkung, ikan patin bakar, jelawat bakar, lais bakar, ayam bakar, udang galah, dan tim ayam. Masakan itu disajikan Fani untuk Radar Sampit.

“Ada empek-empek ni, cobain juga,” tutur anak kedua pasangan Subenho, 52, dan Maya, 51, ini, sambil menyantap empek-empek buatannya sendiri.

Sang ayah yang saat itu berada di ruang makan sama ramahnya dengan Fani. Subenho mengaku bangga dengan anaknya dan tidak menduga Fani bisa melangkah sejauh itu.

“Bakatnya sudah keliatan dari sekolah. Kalau masak-masak itu sebentar saja jadi,” ucapnya.

Menurut Subenho, banyak yang tidak menduga Fani orang Sampit. “Siapa yang sangka ada dari kota kecil kayak Sampit ini bisa masuk sampai grand final. Kami keluarga saja gak nyangka,” ucapnya.

Fani memang dikenal sebagai gadis mandiri. Sejak SMA, dia sudah tinggal jauh dari kedua orang tuanya. Fani di Surabaya sementara kedua orang tuanya menetap di Sampit.

“Kasihan juga sih kalau anak-anaknya balik ke Surabaya, tinggal mereka berdua saja di rumah. Sepi,” kata Fani.

Keluarga memberikan kebebasan penuh pada Fani menentukan masa depannya. Sebagai orang tua, Subenho dan Maya selalu meberikan dukungan kepada buah hati mereka.

“Kalau kami, tidak pernah menuntut anak harus bagaimana. Kami dukung,” kata Subehno.

Saat di ruang makan itu, acara MasterChef kebetulan tayang. Fani pun menyaksikan penampilannya sendiri. Sesekali dia tertawa melihat tingkahnya di layar kaca.

Memiliki wajah oriental, darah campuran dari kedua orang tuanya, Fani kerap mendapat pujian dari pengguna Instagram yang sering kali memenuhi kolom komentar di setiap foto yang Fani unggah. Warganet memuji kecantikan Fani dengan senyumnya yang khas.

Saat berada di Sampit, gadis dengan gigi berbehel ini menyempatkan memasak pangsit mie, mie ayam kegemaran keluarganya. “Banyak sih, bikin-bikin kue juga,” ucap Fani yang menceritakan saat sebelum mengikuti MasterChef dirinya sering menerima order-an membuat kue kering untuk Lebaran mauopun Natal.

“Kalau natalan di rumah gak beli, bikin sendiri. Kalau kue Lebaran, banyak teman mamah yang pesan,” katanya.

Saat kuliah, Fani yang hobi main basket ini sering menerima pesanan dari rekan-rekan kampusnya. “Dari hasil jualan itu ditabung-tabung,” ucapnya.

Saat ditanya masakan kesukaannya, Fani dengan mantapnya menjawab. “Nasi bungkus. Enggak tahu kenapa, pokoknya suka saja sama nasi bungkus. Mau isinya telur atau ayam, ada sayuran ada sambelnya, pokoknya nasi bungkus. Soalnya kalau nasi bungkus itu seperti ada kejutannya saat dibuka. Kita gak tau isinya apa,” kata Fani sambil tertawa.

Mengenai karirnya dalam bidang memasak, Fani mengaku banyak mendapat tawaran bisnis atau pekerjaan. Asalkan berhubungan dengan kuliner, dia akan menerima tawaran tersebut.

“Kalau itu tentang kuliner semua, ambil. Iklan ambil. Tapi, kalau reality show sama tawaran sinetron, belum bisa ambil. Sudah ada tawaran sinetron sih,” ucapnya.

Saat kompetisi, Fani mengaku pernah mengolah masakan khas Kalimantan. “Waktu di MasterChef pernah masak, tapi kalau masak yang aman tidak dipanggil. Peserta yang dipanggil itu yang sangat buruk atau yang sangat bagus. Waktu itu masak bumbu kuning ada sekali, bumbu masak merah juga pernah,” tutur Fani.

Selama mengikuti MasterChef, sejak Januari baru bulan ini Fani berkesempatan pulang ke kampung halamannya. Kurang lebih satu pekan Fani berada di Sampit. Dia menyempatkan berkunjung ke kampung halaman orang tuanya di Desa Penyahuan serta menyempatkan diri berwisata ke Pantai Ujung Pandaran.