Lebih Sreg jika Pakai Durian Lokal

MALANG KOTA–Salah satu yang membedakan antara Es Teler Dempo No 7 dengan es teler lain adalah durian yang selalu tersedia di tempat tersebut. Meski tidak waktu musim durian, tapi buah tersebut selalu tersedia.

Selain itu, dari berbagai jenis durian yang ada, menurut Sri Wahyuni, pihaknya lebih memilih durian lokal. Dia mengaku ingin mengunggulkan cita rasa lokal di es teler buatannya.

Setiap hari Sri membutuhkan 30 hingga 40 buah durian. Dari puluhan durian tersebut, dapat menghasilkan 150 mangkuk setiap harinya. Sri mengaku kesulitan saat durian sedang tidak musim, biasanya pada bulan Juli. Sehingga dia harus berpikir keras menyiasatinya.

Salah satunya adalah memborong durian sebelum musimnya habis lalu menyimpannya. Namun, ada risiko sendiri di proses penyimpanan. Karena buah mempunyai masa penyimpanan sendiri, begitu pula dengan durian.

Selain itu, Sri menyiasati permasalahan musim tersebut dengan mengganti ke jenis durian lain. Dia menggunakan durian montong. Durian montong mempunyai harga yang jauh lebih mahal daripada durian lokal, yakni sekitar Rp 50 ribu per kilogramnya. Padahal, durian lokal hanya Rp 50 ribu untuk satu buah.



Sehingga, Sri harus menyiasati dengan baik porsi durian di setiap mangkuknya agar dia tidak mengecewakan pelanggan. ”Sudah konsekuensi. Kita harus siap stok durian kapan saja,” ujarnya.

Namun, Sri mengaku tidak menaikkan harga jual es duriannya jika sedang sepi durian lokal. Dia mengaku lebih baik mengurangi untung daripada menaikkan harga. Semua itu dia lakukan demi menjaga kualitas dan kepuasan pelanggan.

Dalam satu porsi es durian, terdiri dari empat butir durian ditambah serutan es yang disiram susu kental manis serta sirup berwarna merah. Sedangkan es teler durian, komposisinya sama dengan es durian, namun ditambahkan buah nangka, avokad, dan serutan kelapa muda.

Setiap pagi, Sri belanja kebutuhan warung ke pasar. ”Saya kulakan setiap jam tujuh pagi, lalu langsung ke warung,” paparnya. Saat itulah dia mempersiapakan kebutuhan warungnya. Seperti cao, kolang kaling, dawet, roti, tape, nangka, avokad, kelapa muda, dan berbagai macam bahan lainnya.

Terkait kualitas gula yang dia gunakan, Sri mengaku hanya menggunakan gula asli tanpa pemanis buatan. Bahkan, gula yang dia gunakan, telah lolos uji laboratorium. Karena pernah ada seorang pengunjung yang menguji kualitas gulanya.

Pewarta: Lizya Oktavia
Penyunting: Irham Thoriq
Foto: Darmono