Nasi Empok Bu War Kota Batu Eksis sejak 1979

Berawal dari Bazar, Kini Jadi Jujukan WisatawanWarung sederhana yang berlokasi di Jalan Utomorejo, Kelurahan Sisir ini sudah cukup ternama di Kota Batu. Kombinasi nasi jagung dengan bahan pendukung seperti trancam (sayuran mentah), mendol, hingga peyek membuat Nasi Empok Bu War memiliki banyak pelanggan setia.

Usia Suwarma memang tak lagi muda. Meski begitu, wanita yang di lingkungan tempat tinggalnya akrab disapa Bu War ini masih terlihat cekatan melayani pembeli. Mulai dari memasak, hingga menyajikan makanan, biasa dilakukan Suwarma seorang diri.

Setiap hari, warungnya tak pernah sepi. Pembelinya tidak hanya mereka yang tinggal di lingkungan sekitar warung. Tapi juga wisatawan yang sedang menikmati libur di Kota Wisata Batu.

Suwarma tentu saja bersyukur atas apa yang dia peroleh saat ini. Sebab, lewat warung nasi empok inilah, kehidupan ekonomi keluarganya bisa terangkat. Setidaknya jauh lebih baik ketimbang saat Suwarma menjadi pedagang sayur.

Ya, sebelum membuka warung, Suwarma berjualan sayur di pasar. Dulu, lokasi pasar berada di tempat yang kini menjadi Alun-Alun Kota Batu.

Hingga akhirnya, pada 1979, Suwarma mengikuti bazar yang diadakan warga kampungnya. Bukan sayur mayur yang dia jual, melainkan panganan sederhana seperti kacang hijau, gorengan, dan kerupuk.



Suwarma tak mengira, kegiatan iseng-iseng itu membuahkan hasil positif. Panganan dagangannya laku keras. Lalu, ada seorang tetangganya yang menyarankan Suwarma untuk berjualanan makanan. Ketimbang menjadi penjual sayur.

Keesokan harinya, istri almarhum Suharto itu kembali berjualan makanan. Tak hanya makanan ringan, tapi juga nasi empok. Lagi-lagi responsnya positif. Banyak yang suka dengan nasi empok racikan Suwarma. ”Tetangga-tetangga bilang, masakan saya enak,” ujar wanita 59 tahun ini.

Nah, ternyata War mendengar saran dari temannya itu. Keesokkan harinya istri dari almarhum Suharto ini langsung menambah menu nasi empok. Karena banyak yang suka dengan nasi empoknya, para pembeli tidak memperbolehkan War untuk berhenti menjual.

Suwarma kemudian memantapkan hati untuk meninggalkan usahanya sebagai penjual sayur dan beralih menjadi penjual nasi empok. Dia pun menyewa kios kecil yang ada di depan rumahnya.

Nasi empok buatan Suwarma dilengkapi bahan-bahan pendukung seperti trancam, urap-urap, mendol, peyek, ikan asin, dan tempe tahu pedas. Di awal buka warung dulu, per porsi dia jual Rp 750. Kini, harga satu porsi nasi empok Rp 7.500.

Menariknya, sejak pertama kali buka, hingga saat ini, Suwarma tidak pernah memasang papan nama atau tanda pengenal di warungnya. Tapi, warungnya sudah telanjur kondang dengan sebutan Nasi Empok Bu War.

Alasannya, tanpa papan nama pun, Suwarma mengaku sudah kewalahan untuk memenuhi permintaan. ”Sejak  beberapa tahun lalu saya meluaskan teras rumah saya, supaya lebih enak kalau jualan. Tetapi saya tidak berani memberi nama warung. Karena takut banyak yang datang ke sini,” jelas perempuan yang dikaruniai tiga orang anak ini.

Bahkan, ketika warungnya libur atau tutup, selalu saja ada orang yang datang untuk membeli nasi empok. Dia pun berharap bisa terus menjaga kualitas masakan, demi memuaskan lidah pelanggannya.

Pewarta: Irsya Richa
Penyunting: Indra Mufarendra
Foto: Falahi Mubarok