Pelesir ke Bawomataluo di Pulau Nias, Surga Traveler yang Kaya Sejarah

Pelesir ke Bawomataluo di Pulau Nias, Surga Traveler yang Kaya Sejarah

JawaPos.com – Berbicara pulau Sumatera tak akan ada habisnya menjadi surga bagi para traveler. Satu pulau di bagian utara Sumatera yakni Pulau Nias, punya magnet tersendiri bagi traveler pecinta laut dan pantai.

Pulau Nias yang berada di Provinsi Sumatera Utara dengan wilayah seluas 1.825,2 km2 dan penduduk berjumlah 314.395 jiwa ini, kini semakin bersolek dalam acara puncak Sail Nias 2019, Sabtu (14/9). Para wisatawan diundang ke sana untuk melihat betapa cantiknya pesona Pulau Nias.

Pulau Nias yang berada di bagian terluar barat Indonesia ini adalah eksotisme Indonesia kecil. Dengan potensi alam luar biasa yang bisa membawa nama besar Indonesia sebagai bagian destinasi wisata berkelas dunia. Sail Nias 2019 ini akan semakin mengenalkan Pulau Nias di Indonesia dan juga dunia. Salah satunya Desa Bawomataluo yang kaya dengan kearifan lokal dan nilai sejarah.

Keindahan Desa Bawomataluo

Ilustrasi suasana wisata di Desa Bawomataluo, Pulau Nias. (dok Pemkab Nias Selatan)



Dalam laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Desa Bawomataluo terletak di Kecamatan Fanayama, Nias Selatan. Pemukiman Bawomataluo mempunyai nilai yang sangat tinggi yang bersifat universal yang dapat dilihat dari budaya dan lingkungannya yang masih utuh dan terjaga.

Oleh karena itu pemukiman Bawomataluo memiliki potensi untuk dijadikan Word Heritage sesuai dengan kriteria dalam Operational Guidelines for the Implementation of the Word Heritage Convention. Kehidupan di Desa Bawomataluo masih sangat asli, lengkap dengan tradisi-tradisinya, seperti rumah adat, tradisi lompat batu, tarian perang, dan budaya peninggalan megalitikum.

Perkampungan Bawomataluo berlokasi di Desa Bawomataluo, Kecamatan Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan, provinsi Sumatera Utara. Luas areal ± 5 Ha, dengan ketinggian 270 meter di atas permukaan laut. Lintang dan bujur atau koordinat UTM : 00º 36’ 831” LU dan 097º 46’ 173” BT. Perkampungan Bawomataluo berada pada ketinggian 270 meter di atas permukaan laut. Perkampungan ini, berada di atas perbukitan sangat aman dari ancaman gelombang tsunami, meskipun jaraknya dari laut hanya 4 km.

Untuk masuk ke dalam kompleks rumah ini melalui tangga beton yang menyerupai punden berundak-undak dengan jumlah anak tangga teras pertama 7 buah sedangkan teras kedua berjumlah 70 buah. Rumah-rumah ini saling berhadapan dengan jarak 4 meter. Pada bagian tengah kompleks terdapat halaman yang terbuat dari susunan batu yang digunakan sebagai tempat pelaksanaan upacara adat dan ritual.

Tidak diketahui kapan berdirinya situs Bawomataluo, namun jika dilihat dari peninggalan bebatuan yang ada diperkirakan berumur ribuan tahun yang lalu. Sedangkan Pemukiman Bawomataluo diperkirakan dibangun pada abad ke-18

Dalam bahasa setempat, Bawomataluo berarti Bukit Matahari. Situs ini merupakan perkampungan tradisional yang pada masa lalu merupakan bagian dari rangkaian upacara dalam tradisi megalitik yang sampai saat ini masih dapat disaksikan sisa peninggalan dan tradisi budayanya. Perkampungan Bawomataluo merupakan pemukiman semi makro yang terletak di atas bukit datar dengan orientasi tenggara-barat laut.

Megalitik-megalitik di Bawomataluo terbagi menjadi megalitik yang diletakkan dalam posisi mendatar (horizontal) yang disebut daro-daro dan yang diletakkan dalam posisi tegak (vertikal). Megalitik dalam posisi vertikal disebut dengan naitaro.

Menuju pemukiman Bawomataluo, harus melalui tangga naik di sebelah utara yang diapit oleh patung berkepala harimau. Pada teras tangga pertama terdapat satu buah batu berbentuk tong berada sebelah kanan tangga dengan nama Niotumba yang disimboliskan sebagai tabur beras dan 2 buah meja batu (daro-daro) sebelah kiri sebagai tempat duduk, serta tiang batu sebagai tempat meletakkan topi raja.

Pada tangga pertama ini juga terdapat hiasan patung kera sebanyak 2 buah (kiri dan kanan). Setelah menaiki anak tangga tersebut, terdapat pintu gerbang yang diapit oleh 2 buah batu tegak yang oleh masyarakat setempat disebut ‘Batu baluse’ yang berbentuk pipih persegi empat dengan pola hias sulur florasistis yang menonjol dan perisai 2 buah. Di samping batu baluse terdapat batu bulat senbanyak 2 buah yang disebut dengan lasara yang diyakini sebagai pelindung dan pemberi kekuatan pada rumah mereka.

Kehidupan di Desa Bawomataluo masih sangat asli dengan tradisi-tradisinya seperti rumah adat, tradisi lompat batu, tarian perang, dan budaya peninggalan megalitikum. Nah buat traveler yang cinta wisata dengan sejarah yang kental, maka berkunjung ke Bawomataluo di Nias Sail 2019 tak boleh dilewatkan.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Marieska Harya Virdhani