Pemodal Asing Bayangi Pengusaha Lokal

MALANG KOTA – Kebijakan pemerintah mengeluarkan industri kafe dan restoran dari daftar negatif investasi (DNI) direspons Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) Kota Malang. Meski menjadi ancaman, langkah itu dipercaya menjadi magnet para investor asing masuk ke kota ini.

Hal itu dikatakan Daniel Indrapribadi, humas Apkrindo Kota Malang (19/2) lalu. ”Kami menilai banyak poin positif dari kebijakan itu. Bukan hanya menjadi pintu masuk para investor lagi, tapi sekaligus mengurangi pengangguran,” bebernya.

Hanya saja, di sisi lain langkah pemerintah tersebut memaksa pengusaha lokal harus kreatif dan inovatif. Terutama dalam menyajikan dan menjaga mutu makanan dan minuman yang ditawarkan. ”Jika tidak begitu akan mudah gulung tikar,” tambahnya.

Dampak ekstremnya, lanjut Daniel, peluang pengusaha lokal juga bisa tergencet. Karena paket kebijakan tersebut mengizinkan kepemilikan asing hingga 100 persen. ”Diambil baiknya saja, kalau asing mau masuk tidak apa-apa. Kami terbuka dengan kebijakan tersebut. Tetapi mereka harus bisa menyerap tenaga kerja lokal, bukan membawa dari negara asal,” tegas Daniel.

Yang lebih penting lagi, masih kata Daniel, kebijakan ini perlu dibarengi regulasi pemerintah daerah. Sehingga pengusaha lokal tetap bisa hidup. Apalagi sebagai kota besar kedua di Jatim setelah Surabaya, Malang sangat berpotensi dilirik para pemodal asing. ”Secara umum, tahun lalu industri kafe dan restoran di Jatim mampu tumbuh 12 persen. Tahun ini ditarget bisa 15–20 persen,” tandasnya.



Pewarta: Irsya Richa
Penyunting: Neny Fitrin
Foto: Bayu Eka