Perpaduan Resep Lamongan-Blitar

Soto Daging Lamongan Pak To berbeda dengan soto lamongan pada umumnya. Rasanya lebih manis. Itu lantaran Ningsih, istri Sugianto merupakan orang asli Blitar. ”Daerah Blitar hingga Solo dan Jogjakarta, kan terkenal manis. Mungkin itu penyebabnya,” kata Sugianto.

Dia mengungkapkan, butuh waktu beberapa bulan untuk menemukan racikan yang pas untuk soto daging buatannya. ”Kami banyak tanya ke orang tua dan saudara,” tutur Sugianto sembari menengok karyawannya melayani pembeli.

Ningsih membocorkan sedikit resep soto buatannya yang melegenda. ”Mungkin soto kami lebih enak karena rempahnya sangat lengkap,” kata dia. Rempah-rempah yang digunakan antara lain jahe, kunyit, lengkuas, pala jinten, dan ketumbar.

Tentu saja, cita rasa manis yang muncul dari soto daging berasal dari gula. ”Kalau soto Lamongan lain, tidak pakai gula,” ungkapnya.

Ningsih mengatakan, saat berkonsultasi dengan saudara ipar dan mertuanya yang memang asli Lamongan, dia mencocokkan sendiri dengan seleranya. Setelah bumbu ditakar dan diracik dengan rasa yang pas, akhirnya dia memutuskan untuk berjualan.



Setiap harinya, Ningsih dan satu karyawannya mulai memasak soto daging sejak pukul 09.00. Proses merebus daging sapi dilakukan mulai pukul 09.00 hingga 11.00.
Dalam sehari, Ninggsih menghabiskan lima kilogram daging sapi. Dia mengiris tipis-tipis agar daging empuk dan gampang dikunyah.

Sembari menunggu daging matang, dia meracik kuah soto. Sekitar pukul 12.00, soto dan daging sudah matang. ”Tapi dari jam 12.00 hingga soto dibawa ke warung tenda dan disajikan, saya panasi terus,” kata ibu tiga anak ini.

Pewarta: Rae Sheila
Penyunting: Indra Mufarendra
Foto: Darmono