Pesona Arsitektur Masjid-Masjid Isfahan, Indah dan Agung

Pesona Arsitektur Masjid-Masjid Isfahan, Indah dan Agung

Isfahan, akhir musim semi 2018. Seharusnya udara terasa sejuk, tapi sebaliknya hari itu terik matahari mulai membakar. Meskipun cuaca sedang kurang bersahabat, kota tersebut tetap dibanjiri wisatawan, dalam maupun luar negeri.

KOTA Isfahan yang berjarak 450 km selatan Teheran sering dijuluki sebagai kota budaya karena setiap sudutnya seperti merekam sejarah masa lalu. Banyak gedung kuno yang menjadi incaran traveler. Ada bangunan istana, jembatan, gereja tua, hingga masjid-masjid yang indah. Beberapa di antara bangunan bangunan tersebut telah menjadi bagian dari situs budaya UNESCO.

Ada tiga masjid klasik yang menarik untuk dikunjungi saat berada di Kota Isfahan. Yaitu, Masjid Imam, Masjid Lotfollah, dan Masjid Jami Atiq. Lokasi Masjid Jami Atiq berada di kawasan kota tua Isfahan, diapit pasar tradisional dan gang-gang berkubah.



Dinamakan Atiq karena masjid tersebut merupakan yang tertua di Isfahan. Dibangun kali pertama pada abad kedelapan dan terus dilakukan renovasi. Baru pada 2012 masjid itu menjadi bagian dari situs budaya UNESCO.

WARISAN DUNIA: Meidan Emam yang menjadi pusat kota Isfahan. Kawasan ini memiliki lapangan seluas 9 hektare dan menjadi salah satu lapangan terbesar di dunia. (Afifah Ahmad for Jawa Pos)

Meski terlihat sangat tua, Masjid Jami Atiq masih digunakan untuk kegiatan keagamaan. Seperti hari itu, saya melaksanakan salat Duhur berjamaah di masjid tersebut. Di antara keunikan masjid itu, memiliki 10 pintu masuk dan 14 mihrab.

Mihrab yang terlihat unik dan klasik bernama Aljaytu yang dibangun pada abad ke-14. Terdapat ukiran dinding dari bahan kapur dan prasasti yang menggunakan huruf Kufi.

Sedangkan Masjid Imam dan Masjid Lotfollah berada dalam kompleks Emam Square. Masjid Lotfollah berukuran lebih kecil, namun memiliki dekorasi interior yang menawan.

Konon, masjid tersebut hanya digunakan untuk kalangan istana. Tapi sebaliknya, Masjid Imam yang ukurannya jauh lebih luas dibuka untuk publik. Bahkan, di sekitar masjid dibangun pusat pendidikan. Untuk turis asing, biasanya harus membayar tiket masuk yang cukup besar.

INTERIOR MENAWAN: Bagian dalam Masjid Jami Atiq yang disusun dari keramik hingga membentuk mozaik. Konon hanya kalangan istana yang menggunakan masjid ini. (Afifah Ahmad for Jawa Pos)

Namun, pada waktu-waktu salat, semua pengunjung dibebaskan masuk ke area masjid. Kedua masjid itu dibangun pada masa kejayaan Islam Persia, terutama dinasti Safavid. Seikh Bahai, arsitek muslim terkemuka masa itu, memberikan sentuhan menawan yang bisa dinikmati hingga hari ini.

Saya perhatikan langsung, banyak turis yang bukan muslim pun turut menyaksikan dan mengagumi kemegahan arsitektur masjid-masjid di Isfahan. Di antara ciri khas arsitektur masjid di Iran adalah gerbang iwan dan ornamen keramik.

Awalnya, saya mengira iwan hanyalah pintu masuk biasa. Tetapi, setelah melihat langsung di masjid Isfahan, saya makin tertarik. Iwan yang menjadi ciri khas masjid Iran itu ternyata terdiri atas bangunan kompleks yang diapit dua menara kembar dengan ketinggian kira-kira 40 meter.

Kalau dilacak secara historis, iwan telah digunakan pada dinasti Sasania, sebelum Islam masuk ke Persia. Mereka biasanya membangun iwan dengan hiasan patung binatang atau kepala raja-raja. Namun, setelah Islam datang, hiasan patung binatang diganti dengan dekorasi keramik.

JEJAK SEJARAH: Gedung kuno menjadi incaran traveler di Isfahan, salah satunya, Masjid Imam. (Afifah Ahmad for Jawa Pos)

Saat saya mendongak ke bagian lengkung atas gerbang, terlihat dekorasi rumit yang menyerupai stalagtit dengan susunan geometris. Sangat indah. Saya membayangkan betapa rumitnya para seniman tersebut menata keramik satu demi satu sehingga membentuk mozaik seperti itu.

Dokarasi iwan keramik itu diyakini secara orisinal merupakan peninggalan arsitektur Islam Persia. Lalu dikembangkan di berbagai wilayah negara tetangga seperti Iraq, Afganistan, dan negara-negara bekas jajahan Rusia.

Bukan hanya iwan, kubah dan seluruh dinding masjid di Isfahan juga dilapisi keramik. Kubah masjid-masjid di Persia biasanya berbentuk sedikit runcing seperti gangsing, berbeda dengan model Andalusia yang berundak-undak atau kubah masjid di kawasan Arab yang melebar.

Penggunaan lapisan keramik pada kubah juga menjadi ciri khas masjid di wilayah Persia. Semakin ke dalam, mata pengunjung akan disuguhi dinding dan langit-langit yang mendemonstrasikan keindahan perpaduan warna dan desain keramik.

Interior Masjid Jami Atiq. (Afifah Ahmad for Jawa Pos)

Pola desain yang banyak ditemui pada masjid di Isfahan adalah Cuerda Seca, pola yang memadukan banyak warna pada sebidang keramik. Pola tersebut dinilai secara waktu dan biaya cukup efisien, tapi tetap menggambarkan kekayaan warna.
Sambil meninggalkan pelataran Meidan Emam, sekali lagi mata saya beradu ke kubah berlapis keramik yang berkilauan diterpa lampu. Ternyata sebuah masjid dibangun tak hanya memperhatikan elemen-elemen materi, tetapi juga melibatkan unsur-unsur spiritual.

Seperti ungkapan Parviz Ahmadi, salah seorang arsitek Persia, roh pembangunan rumah ibadah pada dasarnya untuk mengagungkan Tuhan. Karena itulah, tangan-tangan seniman masjid tak hanya bertugas mendesain dan menata ribuan keramik, namun juga membuat kesatuan harmoni yang hidup.

Dengan begitu, para pengunjung tidak hanya akan nyaman beribadah dalam masjid, tetapi juga bisa merenungi kebesaran Tuhan. Bahkan, karya seni yang indah akan terus dinikmati para musafir dari berbagai generasi setelahnya.

TERTUA: Gerbang Masjid Jami Atiq. Masjid ini dibangun pada abad ke-8 dan terus direnovasi. Pada 2012 masjid ini menjadi bagian dari situs budaya UNESCO. (Afifah Ahmad for Jawa Pos)


Hai travelers, punya pengalaman berlibur seru dan ekstrem? Melakukan solo traveling dengan uang pas-pasan atau memilih rute yang tidak biasa tentu menjadi pengalaman menantang dan tidak terlupakan. Setiap orang pasti punya kisah yang berbeda. Ceritakanlah pengalaman tersebut melalui e-mail traveling@jawapos.co.id dalam tulisan. Maksimal 500 kata. Sertakan pula tip liburan ala Anda. Lampirkan foto paling keren dan seru saat berlibur (minimal 500 KB). Jangan lupa lampirkan scan kartu identitas, NPWP, nomor rekening bank, dan nomor telepon dalam e-mail tersebut. Cowok atau cewek boleh ikut menulis. Ada honor bila tulisan dimuat. So, tunggu apa lagi? Share yours!