Pilih Gunakan Cara Manual dalam pembuatan Es Ceklok

Es Ceklok ini tidak hanya menunya saja yang jadul, yakni es puter yang divariasikan dengan aneka rasa buah. Namun dalam memproduksi juga masih bisa dikatakan jadul. Yakni masih menggunakan cara manual dalam proses pembuatannya.

Tugiman Rohmat Raharjo menjelaskan, untuk membuat es ini masih diputar atau diaduk dengan cara manual. Warga Polowijen ini menjelaskan, selama tiga jam dia mengaduk semua bahan yang dibutuhkan untuk diubah menjadi es puter. ”Jika ditotal, jumlah bahannya itu mencapai 25 liter,” jelas dia.

Karena menggunakan cara manual yang masih jadul, tidak heran jika Tugiman bangun dini hari, sekitar pukul 03.00 pagi untuk mempersiapkan menu yang dia jual. Adonan es puter diproses dengan cara diaduk selama tiga jam. Kemudian dia lanjutkan untuk mempersiapkan kebutuhan lainnya.

Contohnya saja agar-agar, mutiara, dan potongan roti. Mempersiapkan tambahan bahan tersebut, menurut bapak tiga anak ini tidak terlampau susah. Dulunya dia pernah menggunakan alat pemutar otomatis, tujuannya untuk meringankan kerjanya dan meningkatkan produktivitas.

Namun, rupanya upaya dia untuk meringankan pekerjaan dan meningkatkan produktivitas esnya ini bisa dikatakan tidak berhasil. Pasalnya, setelah menggunakan mesin pemutar otomatis, pelanggannya banyak yang mengatakan bahwa rasa dari esnya berubah. Namun pelanggan tidak tahu letak perubahannya. ”Mereka bilang rasanya tidak seenak sebelumnya. Saya langsung tahu bahwa rasanya berubah karena saya mengganti metode dalam prosesnya,” beber dia.



Memang menurutnya, memroses dengan cara mengaduk manual menjadi lebih repot dan memakan waktu lama. Namun, Tugiman lebih memilih manual untuk mempertahankan rasa. ”Daripada nantinya pelanggan saya kabur dan tidak kembali, jadi saya lebih memilih tetap dengan cara manual,” imbuhnya.

Sayangnya, usaha kuliner legendaries Tugiman alias Pak Ceklok ini terancam punah, jika dia sudah memtuskan untuk pensiun dari berjualan Es Ceklok. Pasalnya tidak ada penerus untuk menggantikan estafet usahanya. ”Ketiga anak saya di Klaten dan tidak berkeinginan untuk menjual es,” tandas dia.

Pewarta: Tika
Penyunting: Kholid Amrullah
Foto: Darmono