Ronde Legend Since 1948

Menikmati kuliner legendaris Kota Malang yang hingga kini tetap eksis memang jadi sensasi tersendiri. Apalagi jika dulunya sudah langganan atau pernah merasakan makanan atau minuman khas tersebut. Ronde Titoni sudah tentu masuk daftar wajib yang layak dikunjungi (lagi).

Sejumlah pengunjung tampak asyik menikmati minuman ronde sambil berbincang santai. Ada juga pasangan muda-mudi gayeng ngobrol sambil menyeruput angsle. Meski ada beberapa bangku kosong, warung Ronde Titoni di Jalan Zainul Arifin ini memiliki sejarah panjang menjadi jujukan masyarakat penyuka minuman hangat.

Saat ini, Ronde Titoni tak hanya bisa dinikmati di warung di Jalan Zainul Arifin. Sugeng Prayitno, pengelolanya, juga sudah membuka cabang di dua tempat, yakni di Jalan Tidar dan Letjen Sutoyo.

”Memang tidak seramai dulu, tapi ada saja pelanggan lama maupun baru yang tetap suka datang,” terang Sugeng, generasi kedua pengelola Ronde Titoni.

Dari keterangannya, sang ayah lah, Abdul Hadi, yang merintis usaha ronde yang diteruskannya itu. Sugeng pun tetap mempertahankan menu minuman maupun makanan yang dijual ayahnya. Ada ronde basah, ronde kering, ronde campur, hingga angsle.



”Selain itu, ada cakwe dan roti goreng yang menjadi jajanan pendamping minum ronde,” terangnya. Ronde-ronde ini dibuat dari tepung beras ketan pilihan yang bagian tengahnya diberi gula.

Diakui Sugeng, sejak pindah lokasi dari depan toko jam Titoni Pasar Besar Malang ke Jalan Zainul Arifin, jumlah pengunjung warungnya menurun drastis. Itu terjadi sekitar tahun 1988. Jumlah pembelinya kurang dari 20 orang dalam sehari. Selain belum banyak pelanggan baru, pelanggan lamanya kemungkinan belum tahu lokasi warung barunya.

”Tapi tidak ada pikiran saya untuk tutup. Saya yakin suatu hari nanti pasti warung saya akan ramai lagi. Hanya itu yang saya yakini sambil menunggu pelanggan,” ujar Sugeng.

Kunci yang dia pegang untuk bertahan adalah sabar, sabar, dan sabar. Keteguhan dan keyakinannya dia terapkan dalam meneruskan usaha ayahnya. Selain itu, Sugeng tetap mempertahankan pelayanan terbaik untuk semua pelanggannya. Sejak dulu, sikap ramah dan sesekali bercanda dengan pelanggan merupakan ”bumbu” lain yang membuat pelanggan betah di warungnya.

”Terakhir, adalah rasa yang dijaga. Tidak berubah sejak awal buka. Tetap rasa buatan Bapak. Itulah yang membuat warung ini tetap bertahan. Yakini saja itu,” tutur dia.

Saat ini warungnya kembali ramai dan pelanggannya pun dari berbagai kalangan. Sugeng bertekad akan tetap mempertahankan usahanya dan menurunkannya ke keturunannya.

”Saat ini ada anak sulung yang membantu. Tujuannya, agar suatu hari dia tetap meneruskan usaha turun-temurun ini,” ucap dia.

Ronde legendaris ini buka setiap hari, mulai pukul 18.00 sampai 24.00. Bagi Sugeng sendiri, warung Ronde Titoni bukan sekadar kebanggan keluarga, tetapi juga bisa menjadi kebanggan warga Malang.

”Semoga tetap eksis, dan masyarakat semakin senang dengan ronde,” harapnya.

Selain enak, ronde juga diyakini memiliki khasiat bagi kesehatan. Menurut Sugeng, racikan yang dibuat tidak asal-asalan. Apalagi sejak dulu minuman rempah dari jahe ini sangat baik untuk kebugaran. Air jahe dipercaya berkhasiat untuk menghilangkan masuk angin, perut kembung, dan kelelahan.

”Bila tidak enak badan, minum saja ronde. Dapat juga melancarkan perderadan darah. Minum jahe sehat, dan pasti tidak ada efek samping karena semua bahannya alami,” jelas Sugeng.

Pewarta: Elly Kartika
Penyunting: Achmad Yani
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Elly Kartika