Membayangkan suasana Kota Malang pada akhir tahun 40-an boleh jadi tak jauh beda dengan foto-forto hitam putih zaman kemerdekaan. Alat transportasi seperti sepeda angin masih menjadi barang mewah dan banyak pedagang yang masih membawa pikulan. Nah, keberadaan Ronde Titoni juga tak jauh-jauh juga dengan situasi tersebut. Karena Abdul Hadi, sang perintis Ronde Titoni, mulai menjajakan minuman hangat ini sejak tahun 1948.

Setiap pukul tiga sore, Hadi sudah mulai menjajakan dagangannya dengan cara memikulnya di pundak. Dari rumahnya di kawasan Kebalen, dia menuju jalan Pasar Besar yang jaraknya sekitar 1 kilometer. Kuah jahe hangat plus ronde dijajakan dengan berkeliling dari satu jalan ke jalan lain di daerah yang dulu dikenal dengan sebutan Pecina itu.

”Awalnya dulu ya pakai pikulan, keliling di kawasan Pecinan,” ujar Sugeng Prayitno, anak Abdul Hadi, membuka cerita ke Jawa Pos Radar Malang Rabu lalu (25/4).

Saat itu, kopi dan teh sudah jadi minuman favorit masyarakat. Sementara, minuman dari jahe masih jarang bisa dinikmati di jalan. Peluang itulah yang ditangkap Hadi dengan menggabungkan ronde dan kuah jahe menjadi minuman hangat yang kemudian jadi legendaris itu.

”Dan ternyata laku dan banyak yang suka,” terang Sugeng.

Pria kelahiran 2 Februari 1968 ini tak tahu persis sampai kapan ayahnya berjualan menggunakan pikulan. Namun, seiring dengan banyaknya warga yang menyukai ronde buatannya, Hadi lantas memilih berjualan dengan gerobak dan mangkal di depan toko arloji Titoni.

Tak menjual ronde saja di sana, Hadi lantas menambah variasi minuman dan panganan pelengkap. Ada variasi ronde yang dicampur kacang tanah dan menu yang saat ini masih dijual.

”Karena sewaktu pikulan yang dibawa terbatas, setelah ada gerobak jadi lebih bisa berinovasi lagi,” lanjut ayah empat anak itu.

Baru sekitar tahun 1985 Sugeng mulai aktif membantu ayahnya berjualan. Sejak saat itu dia mulai melayani pembeli dan mahir meracik ronde.

”Dulu memang yang beli kebanyakan orang-orang Tionghoa. Warga pada umumnya memang agak jarang yang beli karena mungkin dikira jajanan mahal. Padahal harganya merakyat,” terangnya.

Dia masih ingat, saat dirinya mulai ikut berjualan tahun 1985, semangkuk ronde dijual seharga Rp 25.

Menurut Sugeng, pada tahun 70-an hingga 80-an, Ronde Titoni amat terkenal dan banyak penggemarnya. Setelah ayahnya wafat, Sugeng yang melanjutkan usaha ayahnya itu. Masih di tempat yang sama, di depan toko jam Titoni.

Sampai pada tahun 1988, Malang mulai melakukan proyek pembangunan pasar. Mau tidak mau, dia pun harus pindah mencari tempat lain. ”Saya akhirnya pindah dan berjualan di Jalan Zainal Arifin,” terangnya.

Masih tetap dengan menu yang sama, Sugeng juga tetap menggunakan nama yang sama, Ronde Titoni, untuk mengingatkan pelanggan lamanya agar kembali berkunjung dan menikmati sensasi jahe dengan beragam tambahan isinya itu.

Pewarta: Elly Kartika
Penyunting: Achmad Yani
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Elly Kartika