Sehari Habis 1 Kambing, Bisa Jadi Obat Meriang

Dalam sehari, Warung Sate Lumayan 69 mampu menghabiskan satu ekor kambing dan lima kilogram daging ayam. Padahal, warung ini hanya buka lima jam. Yakni dari jam 17.00–22.00. ”Satu ekor kambing itu sudah untuk gule dan sate,” kata pemilik Warung Sate Lumayan 69, Siti Nurjanah, Senin (3/4).

Nurjanah tidak mematok kambing khusus untuk disembelih. Tidak ada batasan usia, jenis kelamin, atau lainnya. ”Tidak ada syarat khusus. Beli di belantik langganan. Biasanya, kambing yang harganya sekitar Rp 1,5 jutaan saja,” ungkapnya.

Wanita paro baya ini juga mengaku tidak menghitung jumlah porsi hidangan yang dijual. Sehingga, dia kesulitan menjawab berapa porsi sate dan gule yang terjual setiap harinya. ”Aduh nggak pernah ngitung. Yang penting sudah untung, itu cukup,” ujar dia.

Saat ini, Nurjanah hanya dibantu dua orang pekerja. Itu pun dari sanak saudaranya sendiri. Dia juga tidak mematok hari tertentu untuk libur. ”Kalau pengen libur ya libur. Bulan ini saya mau tutup beberapa hari. Diajak anak ke Bali,” tuturnya antusias.

Di samping itu, bulan Ramadan menjadi bulan yang manis bagi Nurjanah. Sebab, gule kambingnya banyak diburu pembeli, baik untuk buka puasa maupun sahur. ”Banyak yang pesan. Bahkan, belum azan magrib, gule sudah habis. Padahal, kalau puasa bukanya jam tiga sore,” kenangnya.



Sementara itu, salah seorang pembeli Warung Sate Lumayan 69, Kamilus Saman, mengaku, jadi langganan tetap Nurjanah. Dalam sebulan, mahasiswa program doktor UIN Maliki Malang ini bisa tiga kali makan di tempat itu. ”Dari segi isi, di sini lebih besar dari tempat lain. Dagingnya seperti tidak ada campuran lain. Rasanya enak dan saya juga suka gulenya,” papar Kamilus, Senin.

Bahkan, Kamilus menjadikan sate kambing di Warung Sate Lumayan 69 sebagai obat meriang. Sebab, tiap dia merasa tidak enak badan, akan kembali segar bugar setelah menyantap sate tersebut. ”Sering ke sini buat nambah darah juga,” jelas dia. Terkait harga, Kamilus tak mempersoalkannya. ”Saya nggak lihat harga, yang penting rasa,” pungkasnya.

Pewarta: Lizya Oktavia
Penyunting: Irham Thoriq
Foto: Bayu Eka