Sehari, Habiskan 28 Ekor Ayam Kampung

Warung soto P. Djari seolah merupakan jaminan mutu untuk rasa soto yang berkualitas. Jika ingin soto yang nikmat, datanglah ke warung ini. Meski pendiri warung sudah tiada, rasanya dipastikan tidak berubah. Lantaran, urusan masak-memasak tetap dikelola oleh kedua putrinya yang diwarisi untuk melanjutkan warung ini. 

Warung soto P. Djari seolah merupakan jaminan mutu untuk rasa soto yang berkualitas. Jika ingin soto yang nikmat, datanglah ke warung ini. Meski pendiri warung sudah tiada, rasanya dipastikan tidak berubah. Lantaran, urusan masak-memasak tetap dikelola oleh kedua putrinya yang diwarisi untuk melanjutkan warung ini. 

Pastikan tidak menggeber kendaraan terlalu kencang saat melintas di Jalan Diponegoro, Kota Batu. Itu berlaku jika Anda ingin berhenti untuk menikmati lezatnya soto ayam legendaris di tempat tersebut. Namanya adalah soto ayam P. Djari.

Warung soto ini berdiri sejak 1970 atau 47 tahun silam. Posisi warung ini persis di sebelah SPBU Jalan Diponegoro. Menu di warung ini hanya dua, yakni soto ayam biasa yang harganya cuma Rp 15.000, dan soto ayam istimewa seharga Rp 20.000. Untuk soto ayam istimewa, ada tambahan rampela ati.

Yang membedakan warung soto ini dengan yang lain adalah ciri khas kuahnya yang kental. Rasa rempah-rempahnya begitu kuat, serta daging ayamnya sangat empuk.

Sepeninggal Pak Djari, pendiri warung ini, pada 2012 lalu, usaha jualan soto diteruskan kedua anaknya, Asnunik dan Astutik. Hingga kini, warung ini selalu ramai dipadati pembeli pada jam makan siang. Bahkan, hingga sore pelanggan terus berdatangan silih berganti. Saat wartawan koran ini berkunjung pekan lalu selama kurang lebih tiga jam, Asnunik nyaris tidak pernah istirahat.



Dengan cekatan kedua tangan Nunik, sapaan akrabnya, menaruh nasi ke dalam mangkuk, mengiris daging ayam, menggunting ati dan ampela, lalu menambahkan soun, kubis, telur rebus, perasan jeruk nipis, dan taburan bawang goreng.

Setelah siap tersaji, Nunik mengantar sendiri mangkuk soto ke meja para pelanggan. ”Ini pegawainya ada dua yang sakit. Jadi, agak kerepotan (melayani pelanggan),” kata Nunik. Meskipun begitu, Nunik tetap bersemangat menceritakan awal mula soto ayam P. Djari eksis di Kota Batu.

”Bapak saya sudah jualan sejak masih bujang. Awalnya, ya pakai gerobak. Keliling-keliling. Mulai dari Ngaglik sampai ke sekitar GOR Ganesha,” kata perempuan 41 tahun tersebut. Setelah belasan tahun berkeliling, akhirnya soto ayam P. Djari mangkal di Jalan Diponegoro, di depan warung Bethania, dan baru-baru ini warung itu bergeser beberapa langkah. ”Pindah ke sini (sebelah pom bensin) baru dua tahun belakangan,” terangnya.

Nunik sendiri sejak kelas tiga SD sudah mendampingi ayahnya berjualan soto. ”Jadi, pas bapak saya menyiapkan soto, saya yang bagian nanya ke pelanggan, ’mau minum apa?’ Harga satu porsinya waktu itu masih Rp 750,” kenang Nunik. Selanjutnya, P. Djari mengajari Nunik bagaimana caranya membuat soto mulai dari nol.

”Tapi, awalnya saya harus cuci piring dulu sekitar satu tahun. Setelah itu, kira-kira pas SMP, saya diajari ngupas kunyit, jahe, dan bikin bumbu. Ya, semuanya (tentang tata cara membuat soto),” kata ibu dua anak ini.

Sampai sekarang pun pegawai di warung ini hanya bertugas untuk membuatkan minum atau menyiapkan bahan-bahan makanan. Urusan memasak dan menyiapkan hidangan soto tetap tanggung jawab Nunik dan kakaknya, Tutik (sapaan akrab Astutik).

Mungkin karena sejak kecil sudah terbiasa ikut berjualan soto, Nunik langsung berinisiatif meneruskan usaha bapaknya sejak orang tuanya itu mulai sakit-sakitan hingga kemudian meninggal pada tahun 2012 lalu. ”Padahal, dulu saya sempat kuliah di Akademi Manajemen Informatika dan Komputer (AMIK), tapi akhirnya saya milih meneruskan warung mulai tahun 2012. Alhamdulillah selalu ramai,” jelas perempuan yang lahir di Batu, 9 Juli 1976 ini.

Setiap harinya, mulai pukul tujuh pagi, Nunik dan Tutik sudah menyiapkan semuanya. Mulai merebus ayam, membuat kuah soto, dan lain sebagainya. Untuk ayam, warung ini selalu menggunakan ayam kampung. ”Satu hari biasanya kita habiskan 28 ekor ayam kampung. Kalau nasinya sekitar 20 kilogram. Kadang lebih juga,” tandas lulusan SDN Ngaglik 1, Batu, ini.

Pewarta: Tabita Makitan
Penyunting: Irham Thoriq
Copy Editor: Arief Rohman
Fotografer: Rubianto