Sempitnya lahan membuat petani belut datangkan dari jatim

Sempitnya lahan membuat petani belut datangkan dari jatim

Jawapos.com — Makin minimnya pasokan mengharuskan Kawasan kuliner olahan belut untuk oleh-oleh yang ada di Pasar Godean, Kabupaten Sleman  mendatangkan belut dari Jawa Timur untuk memenuhi permintaan konsumen. Tanah yang semakin sempit dan lahan persawahan mengandung pupuk berbahan kimia,  para petani  kesulitan untuk membudidayakannya secara mandiri.

Salah satu pedagang di kawasan kuliner belut, Hani Eko Wati, 40, warga asal Klaci II, Margoluweh, Seyegan, Sleman mengatakan, belut lokal saat ini sudah semakin sedikit. “Tidak mencukupi kalau ambil dari lokal saja,” katanya, Jumat (10/11).

Apalagi, bertambahnya tahun menurutnya lahan persawahan semakin berkurang. Menambah stok belut lokal sulit untuk berkembang. “Sawah-sawah sudah sedikit,” katanya, yang sudah jualan belut sejak 15 tahun silam ini.

Hani menunjukkan belut hasil olahan untuk camilan (ridho hidayat/jawapos.com)

Padahal, diakuinya permintaan konsumen cukup tinggi. Apalagi lokasi jualannya yang cukup strategis, jalur alternatif yang menghubungkan antara Yogyakarta dengan Kulonprogo.



Setiap satu minggu, ia menghabiskan kisaran 100 kilogram belut mentah. Bahan baku itu beli melalui pengepul yang mengambilnya dari Jawa Timur.

Sama halnya dengan Hani, pedagang lainnya, Sumarsih, 52, mengatakan, pernah untuk mencukupi permintaan konsumen ia mencoba membudidayakan belut secara mandiri. “Saat lebaran, penjualan bisa mencapai satu ton belut. Itu selama satu sampai dua minggu,” katanya.

Namun, banyak yang hilang meski kolam ternaknya sudah dibangun secara permanen. “Pernah dulu budidaya sendiri, tapi tidak berkembang. Kalau di sawah, tanahnya mengandung pupuk bahan kimia,” ujarnya.

Kawasan kuliner belut ini, sekitar empat tahun sebelumnya berada tepat di depan Pasar Godean. Kemudian dipindahkan beberapa meter ke timur, dijadikan satu lokasi sesama penjual produk olahan belut.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kuliner Wilayah V, Ahmad Sarbini mengatakan, di pusat kuliner belut Godean ada sekitar 32 pedagang.

Untuk semakin meningkatkan omzetnya, pedagang dipersilakan untuk berjualan di tepi jalan, di luar kawasan. Sehingga bisa lebih menarik pengendara yang melewatinya. “Ada pula Pekan Kuliner Belut. Berupa hiburan, dan pameran aneka produk olahan belut,” ucapnya.