Sensasi Makan Soto Genthong yang Tak Biasa

Soto Genthong memang masih kalah legendaris dibanding warung lain yang ada di Kota Malang. Warung ini baru berumur sebelas tahun. Tapi, untuk urusan rasa, warung ini bisa dijadikan daftar buruan saat akhir pekan. Apa spesialnya Soto Genthong yang kini memiliki dua cabang ini?

Asap tipis mengepul dari semangkuk soto berkuah ketika wartawan koran ini berkunjung ke warung Soto Genthong di Jalan Bungur, Tawangmangu, Lowokwaru, Kota Malang, Rabu lalu (11/10). Kuah berwarna coklat, ditambah campuran topping tauge, seledri, kentang, telur, dan ayam membuat soto ini semakin menggugah selera. Saat kuahnya diseruput, soto ini terasa sangat segar.

Soto ini diberi nama Genthong bukan karena dimasak menggunakan gentong. Siti Masitah, 60, pendiri warung ini, menjelaskan perihal asal muasal nama Soto Genthong. ”Nama Soto Genthong itu biar orang penasaran, terus nyoba. Kalau rasanya cocok, mereka akan kembali lagi,” kata ibu tiga anak ini.

Agar pembeli selalu kembali ke warung ini, soto di tempat ini memang disajikan semenarik mungkin. Selain sejumlah hiasan di atas, taburan koya kelapa dan bawang goreng menambah kenikmatan soto ini. Nikmatnya terasa sejak seruputan pertama.

”Soto ini sedapnya beda. Rasa gurihnya dari koya kelapa dan bawang tabur. Begitu kuah tertuang, aromanya nendang,” imbuh Siti.



Warung yang didirikan Siti ini kini memiliki cabang. Selain warung di Jalan Kolonel Sugiono yang dikelola sendiri oleh Siti, warung lainnya berada di Jalan Bungur atau warung yang didatangi koran ini. Warung Soto Genthong di Jalan Bungur ini dikelola oleh anak Siti, Fitria Rahman. Fitria mengelola bersama suaminya, Slamet.

Uniknya, setiap warung memiliki ciri khas yang berbeda-beda. Di warung yang ada di Jalan Kolonel Sugiono, misalnya, yang menjadi andalan adalah udang. ”Bumbunya dikasi udang yang digiling, baru setelah itu dicampur rempah-rempah dan dimasukkan ke dalam kuah,” ujar Siti.

Dia menambahkan, cara memasaknya pun tak ada yang berbeda. Bumbu-bumbu yang digunakan tanpa penyedap rasa. Cukup dengan bawang merah, bawang putih, gula, dan garam.

Sedangkan untuk keistimewaan Soto Genthong di Jalan Bungur, agar soto ayam terasa sedap, yang dipilih adalah ayam Bangkok atau ayam kampung laki-laki. ”Ayam Bangkok dipilih karena kualitas dagingnya bagus dan lebih besar,” imbuh Fitria Rahman.

Setiap hari ada pemasok dari daerah Comboran yang memasok ayam Bangkok ke tempat ini. Saban hari, ada satu hingga dua ayam Bangkok yang dihabiskan. Dia menerangkan, dipilihnya ayam Bangkok itu untuk membedakan Soto Genthong generasi pertama dan kedua.

”Kalau sotonya Ibu pakai ayam potong biasa,” imbuh ibu dua anak ini.

Karena memakai ayam Bangkok inilah irisan daging ayamnya besar-besar. Irisan daging itu melengkapi kesegaran kuahnya.

Agar usahanya tetap bertahan, menurut Fitria, seseorang harus selalu telaten, rajin, dan sabar. ”Yang jelas, harus jaga kualitas. Kepuasan pelanggan itu nomor satu,” tegasnya. Dia mencontohkan, saat harga bumbu-bumbu sedang naik, misalnya, porsi bumbunya tidak boleh berkurang.

Dalam sejarahnya, warung ini berdiri sejak 2006. Mula-mula, yang mendirikan adalah Siti Masitah. Lalu, setahun berselang, anaknya ikut mendirikan. ”Dulu saya pindah dari Salatiga ke Malang. Daripada bingung cari usaha, lebih baik belajar dari Ibu,” ungkap Fitria.

Khulda, 23, salah seorang pengunjung, mengatakan kalau dia langsung ketagihan saat makan kali pertama di warung ini. ”Kuahnya segar. Aromanya enak. Apalagi ada kentangnya, karena saya juga suka kentang,” katanya. Soal harga, pelanggan tidak perlu khawatir, karena satu porsi hanya dibanderol Rp 10 ribu.

Pewarta: NR8
Penyunting: Irham Thoriq
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Bayu Eka