Sering Terguling hingga Tertabrak Mobil

Sudah eksis selama 38 tahun, membuat Mohamad Markeso mempunyai banyak cerita suka dan duka. Bisa dibilang dia sudah kenyang dengan asam garam saat berjualan.

Sudah eksis selama 38 tahun, membuat Mohamad Markeso mempunyai banyak cerita suka dan duka. Bisa dibilang dia sudah kenyang dengan asam garam saat berjualan. ”Kenangan paling banyak itu ketika mendorong rombong, saya jatuh terguling. Akhirnya semua kuahnya tumpah,” kata Markeso.

Akibat dari kejadian ini, Markeso tidak bisa berjualan, karena sotonya sudah habis di jalanan. Dia menjelaskan, mendorong rombong itu bukan pekerjaan yang mudah. Karena rombong yang berat dan mendorongnya butuh tenaga ekstra, utamanya untuk mengendalikan. ”Kan masih belajar, jadi berkali-kali jatuh,” terangnya.

Namun, dia bersyukur karena bapaknya, Rasbini tidak marah dengan kejadian ini. Walau bisa dikatakan mereka tidak bisa berjualan dan harus menanggung rugi. Berkali-kali mendapatkan pengalaman pahit, tidak membuat Markeso putus asa. ”Namanya juga musibah, mau bagaimana lagi. Kalau marah juga tidak akan bisa kembali,” terang dia.

Bahkan, dia pernah punya pengalaman di tahun 1980-an saat jualan di kawasan Simpang Balapan. Kala itu dia mendorong gerobaknya untuk berjualan. Tanpa disangka dari arah berlawanan muncul kendaraan dengan kecepatan yang cukup tinggi.

Kemudian, kendaraan yang dikemudikan mahasiswa itu menabrak gerobak soto Markeso. Tak ayal, laki-laki ramah ini jatuh terjengkang sementara gerobaknya bergulingan. Semua barang yang dibawanya berhamburan.



Ketika itu memang si penabrak memberikan uang ganti Rp 100 ribu atas kejadian yang menimpanya. Padahal, untuk satu gerobak dengan kapasitas hingga 200 sajian piring, seharusnya diganti Rp 500 ribu. ”Kalau sekarang mungkin jutaan, namun saya kasihan sama yang nabrak. Akhirnya walau diberi Rp100 ribu, saya terima saja,” bebernya.

Rupanya kejadian ditabrak itu tidak hanya terjadi sekali. Tahun lalu dia juga pernah jadi korban tabrak. Pelakunya adalah perempuan yang mengemudikan mobil jenis city car. Untungnya saat itu Markeso dan Yuli dalam perjalanan pulang. ”Saya refleks melepaskan rombong daripada saya jatuh,” terangnya.

Yuli menjelaskan, setiap hari dia pergi dan pulang dari berjualan masih mendorong gerobak dengan berjalan kaki. Padahal, rumah mereka di kawasan Jodipan sementara lokasi jualannya di Taman Slamet. Mereka harus menempuh perjalanan selama satu jam. ”Tapi sekarang saya dibantu oleh saudara dalam mengangkut beberapa barang,” pungkasnya.

Pewarta: Tika
Penyunting: Irham Thoriq
Foto: Darmono