MESKI termasuk jajanan lawas, kue itu masih digemari masyarakat lintas generasi. Sugiono misalnya, saat wartawan koran ini berkunjung ke kediaman Sumani, pengusaha furnitur itu sedang membeli jajanan ladu. ”Kalau kepingin ladu pasti ke sini. Di Batu tidak ada yang jual kalau tidak ke sini,” kata Sugiono.

Pria 46 tahun tersebut mengaku sangat suka dengan ladu karena membuatnya terkenang akan masa kecilnya. ”Dulu nenek suka bikin kalau Lebaran, sekarang sudah nggak ada yang bisa,” ujarnya.

Cita rasa manis dan renyah serta bau wangi khas ladu, membuat Sugiono tidak ragu meski harus menempuh jarak hingga puluhan kilometer dari rumahnya di Ngantang, Kabupaten Malang, menuju Desa Gunungsari, Batu. ”Kebetulan nanti malam di rumah mau ada tahlilan, biar ada yang beda sama tetangga jadi saya beli ladu,” terangnya.

Untuk menjangkau rumah Sumani, tidaklah sulit. Jika dari arah Kota Malang, bisa langsung belok kanan melewati Jalan Indragiri tepat di sebelah barat Balai Kota Among Tani. Cukup dengan mengikuti ruas jalan sejauh 8 kilometer, maka Anda akan tiba di Desa Gunungsari. Nah, untuk menandai bahwa Anda sudah berada di Desa Gunungsari, cukup mudah. Jika bunga mawar sudah menghampar di sisi kanan dan kiri, berarti Anda sudah memasuki Gunungsari. Desa ini terkenal karena mawarnya yang melimpah dan pemasarannya merambah luar daerah.

Rumah Sumani tidak memiliki tanda ataupun papan nama penjual ladu. Bentuknya hanya seperti rumah biasa. Tetapi, jika Anda bertanya di mana penjual ladu, hampir semua warga sudah tahu dan akan memberikan petunjuk ke rumah Sumani. Tepatnya, di Gang Masjid RT 3/RW 4, Kandangan, Desa Gunungsari.

Pada hari-hari biasa, Sumani rata-rata memproduksi ladu dari 10 kilogram beras ketan. Nah, sedangkan pada momen Lebaran, untuk stok selama satu minggu di akhir bulan Ramadan, dia bisa kebanjiran pesanan baik dari tetangga maupun masyarakat Kota Batu dari berbagai desa.

Saat Lebaran, Ibu dari Muhammad Mubin dan Hadi Sungkono itu bisa menghabiskan bahan baku beras ketan sebanyak dua kuintal. ”Awal puasa biasanya masih sepi, nanti kalau sudah masuk tanggal 25 Ramadan sampai H+3 Lebaran ramai-ramainya orang cari,” tutur dia.

Sumani sendiri membagi ladu menjadi tiga kemasan yakni ukuran 250 gram, 500 gram, dan 1 kilogram. Tiap 250 gram ladu dihargai Rp 17 ribu, sedangkan untuk ukuran 500 gram senilai Rp 34 ribu. Sama seperti kerupuk, meski beratnya ringan, pembeli sudah bisa mendapatkan ladu dengan jumlah yang cukup banyak–seukuran tas kresek besar untuk setengah kilogram. Jadi, jika membeli sebanyak satu kilogram, Anda akan mendapat dua kresek besar ladu.

Sumani tidak setiap hari membuat ladu. Biasanya, dia akan memproduksi ladu jika stok ladunya sudah ludes. ”Habisnya nggak pasti. Kadang adonan satu kilogram bisa habis sehari, kadang juga seminggu baru habis. Ya disyukuri saja, yang penting cukup buat makan,” katanya. ”Dan halal,” pungkas dia.

Pewarta: Farik Fajarwati
Penyunting: Irham Thoriq
Foto; Rubianto