Soto Ayam Lamongan Oro-Oro Dowo yang Sudah Berumur 40 Tahun

Selalu ada kunci sukses dari seorang legendaris. Ungkapan itu tampaknya juga tepat ditujukan bagi kuliner yang melegenda. Warung yang legendaris pasti punya cara agar cita rasa mereka konsisten. Ini jugalah yang dilakukan Soto Ayam Lamongan Oro-Oro Dowo di Kota Malang selama 40 tahun.

KULINER LEGENDARIS: Salah seorang karyawan Soto Lamongan Warung Oro-Oro Dowo sedang menyiapkan soto kepada pembeli.

Kuah Soto Ayam Lamongan Oro-Oro Dowo, di Jalan Brigjen Slamet Riyadi, Klojen, Kota Malang ini, berbeda dengan soto pada umumnya. Jika biasanya berwarna kuning pekat, kuah soto itu lebih cenderung berwarna putih keruh. Tidak ada minyak yang berasal dari lemak kaldu berlebihan.

Sehingga, soto tersebut nyaman dikonsumsi siapa pun. Ketika kuahnya diseruput, rasa gurih terasa banget. Meski tanpa koya dan belum ditambah perasan jeruk nipis, rasa sedap dan segar sudah terasa sejak seruputan pertama.

Soto ini merupakan salah satu soto legendaris yang masih eksis. Berdiri sejak 1977 atau 40 tahun silam, Soto Ayam Lamongan Oro-Oro Dowo masih digandrungi. Setiap hari, khususnya saat jam makan siang, puluhan pengunjung memenuhi warung yang lebarnya sekitar 4×12 meter.

Rupanya, ada satu ciri khas yang membuat cita rasa soto ini, tak pernah berubah, yaitu mereka memasak dengan menggunakan arang. Penggunaan arang memang dimaksudkan agar kualitas soto terjaga. Saban hari, dua karung ayam yang dihabiskan, juga dimasak dengan arang.

Sugiarti, istri Slamet Mulyono yang merupakan pemilik warung itu mengungkapkan, bisnis warungnya berawal dari usaha keluarga. Pendirinya adalah mertua Sugiarti, yakni H Romli. Pria asal Lamongan ini membuka kedai pertamanya di Oro-Oro Dowo dengan dibantu putranya yakni Slamet Mulyono. ”Hingga 1995, masih bapak mertua yang mengelola. Setelah beliau wafat, baru dilanjutkan suami saya,” kata Sugiarti.



Untuk menjaga cita rasa soto, menurut Sugiarti, dia juga dibantu beberapa juru masak yang menjadi karyawan H Romli sejak awal rumah makan tersebut dibuka. ”Untuk di Oro-Oro Dowo sekarang, bapak dibantu 15 orang karyawan,” kata perempuan 67 tahun ini. Warung itu juga mempunyai cabang di Jalan Tlogomas dengan dua karyawan.

Sementara itu, saat Jawa Pos Radar Malang berkunjung ke warung ini, beberapa waktu lalu, hampir seluruh bagian depan rumah makan tersebut tertutupi kendaraan mewah dan sepeda motor. Meski ada beberapa rumah makan di kanan-kirinya, warung Soto Ayam Lamongan Oro-Oro Dowo paling ramai.

Lalu apa yang membedakan soto ini dengan yang lain? Sugiarti menyebut, bahan-bahan yang dia gunakan tidak jauh beda dengan soto pada umumnya. ”Cuma soto kami tidak pakai koya. Sebagai ganti supaya keluar rasa gurih, kami pakai bawang goreng,” kata ibu tiga anak tersebut.

Untuk daging ayam yang mereka gunakan, juga harus menggunakan ayam kampung. ”Sudah khasnya dari awal pakai ayam kampung, jadi seterusnya juga tidak boleh diubah,” terangnya. Selain menggunakan arang sebagai bahan bakar, Slamet masih menggunakan pawon (tungku untuk memasak) dalam proses pemasakan kuah maupun nasi. ”Kalau pakai minyak atau gas, rasa sedapnya hilang,” imbuhnya.

Soal bumbu yang digunakan, menurut Sugiarti, sama dengan soto pada umumnya. Bumbu yang mereka gunakan antara lain bawang merah, bawang putih, ketumbar, lada, kemiri, lengkuas, jahe, serai, daun jeruk, dan kunyit. ”Sudah itu saja. Mungkin karena tangannya (juru masak) beda, jadi rasanya lebih istimewa,” pungkasnya. (iik/c4/riq)