Sederhana saja, warung ini disebut Soto Lombok karena berlokasi di Jalan Lombok Nomor 1, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Lebih tepatnya, sebelah utara RSI Aisyiyah atau di dekat Jalan Sulawesi, Kota Malang. Untuk mencarinya, juga tidak terlalu sulit. Sebab, lokasinya persis di pinggir jalan. Dari kejauhan, juga sudah bisa terlihat dengan banyaknya kendaraan yang parkir.

Saat Jawa Pos Radar Malang berkunjung ke warung tersebut, Rabu malam (8/3) lalu, suasana tetap ramai meski arah jarum jam sudah menunjukan pukul 20.00. Ketika malam kian larut, selalu ada saja pembeli yang datang. Wartawan koran ini mencatat, dalam kurun waktu lima menit, ada saja pelanggan yang datang ke kasir untuk membayar.

Warung soto itu ada sejak 1955 atau sudah berdiri sejak 62 tahun silam. Oleh karenanya, warung Soto Lombok merupakan salah satu tempat kuliner legendaris di Kota Malang. Mula-mula, Soto Lombok ini dibuka oleh (alm) H Abdul Rohman. Kini, warung tersebut dipegang generasi kedua, yakni Novianto.

Pengelola warung ini–Novianto– menjelaskan, sudah mengelola Soto Lombok sejak 1980-an. Saat itu, dia memang meneruskan usaha dari kedua orang tua. ”Setiap harinya memang begini selalu ramai,” kata dia.
Lantaran banyaknya pelanggan tersebut, Novianto membuka Soto Lombok hingga pukul 00.00. Meskipun pada pukul 07.00 pagi, warung Soto Lombok sudah kedatangan pelanggan.

”Yang kerja terbagi dalam dua shift,” imbuhnya. Sebab, setiap hari, Soto Lombok yang dia kelola bisa menghabiskan sampai ratusan porsi. ”Saya tidak pernah menghitung jumlah pastinya. Kisarannya seperti itulah,” kata dia.

Jika sudah akhir pekan, Novianto mengaku, jumlah pelanggan yang datang bisa lebih banyak. Mulai dari dalam hingga luar kota. Peningkatannya hingga 50 persen. ”Banyak yang dari luar kota jika ke Malang mampir makan dulu di sini,” katanya. ”Padahal ya ada banyak cabang Soto Lombok di luar,” jelas Novianto.

Dia menambahkan, Soto Lombok berbeda dengan soto lainnya. ”Ini soto asli Malang. Bisa dibedakan dengan soto lainnya,” imbuh dia.

Saat wartawan koran ini mencoba Soto Lombok tersebut, rasa gurih begitu terasa. Ketika diseruput, rasa kuahnya gurih dan sedikit asin. Ada jeroan ayam, telor bebek, dan suwiran ayam kampung ketika kita memesan satu porsi Soto Lombok Istimewa. Novianto mengungkapkan, tips untuk mempertahankan warung soto yang dikelola, adalah rasa. ”Inilah yang dicari dan diingat pelanggan,” jelasnya.

Dia melanjutkan, yang menjadi pembeda dengan soto-soto lainnya adalah koya. Soto yang dia hidangkan tidak menggunakan koya berwarna kuning. Tetapi, koya berwarna cokelat. Koya soto pada umumnya berwarna kuning. ”Koyanya terbuat dari kelapa. Ada tambahan yang membuat rasanya lebih gurih. Tapi, itu rahasia perusahaan,” kata Novianto.

Selain koya, soto yang dihidangkan juga ditambahi dengan kentang rebus. Kentang dipotong dengan ukuran kecil-kecil. Terasa lebih nikmat karena ada kuah kental yang meresap di dalamnya. Untuk membuat soto lebih sedap ini, Novianto juga menjelaskan, ada banyak bumbu kaldu di dalam kuah. Sehingga, membuat kuahnya lebih kental. ”Kuah kaldu ditambah dengan koya cokelat rasanya jadi lebih gurih,” tukas dia.

Pewarta: Bahrul Marzuki
Penyunting: Irham Thoriq
Foto: Darmono