Soto Daging Lamongan Pak To di Jalan Galunggung Kota Malang

Soto daging Pak To buka setiap hari, mulai pukul 17.00 hingga 23.00. Setiap harinya, tempat kuliner ini hampir tidak pernah sepi pembeli.

Karena itu, tidak sulit menemukan keberadaan Soto Daging Pak To. Salah satu kuliner soto legendaris di Kota Malang ini berlokasi tak jauh dari perempatan traffic light Dieng. Jika menemukan warung tenda biru yang buka sore hari, dengan belasan sepeda motor dan mobil parkir di depannya, itulah Soto Dading Pak To.

Warung tenda soto daging tersebut menjadi saksi pembangunan Kota Malang. Khususnya di kawasan Dieng. Saat pertama buka, di sekitar warung tersebut masih berupa ruang terbuka hijau. Belum ada ruko-ruko, bahkan mal-mal yang menjulang tinggi seperti saat ini.

Sugianto, pemilik warung soto awalnya adalah supir kantor dan travel. Sugianto bersama sang istri, Ningsih sudah melalang buana ke berbagai kota. Mulai dari Lamongan, Surabaya, hingga Jakarta.

Di berbagai kota yang disinggahi, Sugianto membuka warung soto bersama istrinya. Hingga kemudian, Sugianto dan keluarga hijrah ke Malang pada 1990.

Di Malang, Sugianto kembali berjualan soto. ”Ternyata, rezeki kami lebih lancar di sini,” kata dia. Pada 1990, Sugianto menjual semangkuk sotonya seharga Rp 150. Saat ini, semangkuk soto dia jual Rp 9.000.

Dia menyadari, berjualan soto ayam sebenarnya lebih menguntungkan ketimbang soto daging. Sebab, harga daging ayam lebih murah. Sementara harga daging sapi tidak hanya lebih mahal, tapi juga tidak stabil. ”Tapi hoki saya mungkin di daging. Kalau saya beralih ke ayam, belum tentu selaris ini,” kata dia.

mengatakan, di Kota Malang masih jarang ada orang yang menjual soto daging Lamongan. Sugianto beruntung bisa membaca peluang bisnis itu sejak awal. ”Dari warung ini, saya bisa menguliahkan anak hingga S1,” pungkasnya.

Pewarta: Rae Sheila
Penyunting: Indra Mufarendra
Foto: Darmono