Kota Malang masih menyimpan banyak tempat kuliner legendaris yang masih bertahan hingga kini. Termasuk Warung Brintik. Sampai sekarang, warung ini tetap memiliki pelanggan setia. Selain rawon dan semur yang jadi menu andalan, ada kare ayam kampung yang layak dicoba.

Warung yang lokasinya tampak ”kecepit” di antara dua bangunan di sampingnya ini terlihat mini. Namun, tulisan Warung Brintik berwarna kuning di bagian depannya membuat penyuka kuliner yang belum pernah mampir ke sini bisa dengan gampang menemukannya di Jalan KH Ahmad Dahlan, Kota Malang.

Berdiri sejak tahun 1942, warung itu kini dikelola Hj Maslikha Hasyim, generasi ketiga. Rumah makan bernomor 39 tersebut awalnya dirintis oleh Nafsiah, nenek Maslikha, di Jalan Gatot Subroto atau yang dulunya dikenal sebagai kawasan Petukangan, Malang. Warung baru pindah ke Jalan KH Ahmad Dahlan pada tahun 1974.

Sejak dulu, warung ini terkenal dengan rawonnya. Selain dagingnya yang empuk dan lezat, kuah hitamnya juga terasa segar dan gurih. Semurnya pun tak kalah lezatnya.

Kombinasi rasa daging yang manis dan asin dengan sensasi merica dan pala membuat banyak pelanggan datang lagi setelah merasakannya untuk kali pertama. Meski tak lagi seramai dulu, warung ini tetap dikunjungi para penyuka kuliner yang kangen dengan nikmatnya rawon atau gurihnya semur dagingnya.

Kesederhanaan warung ini tak hanya dari mungilnya ukuran warung, tapi juga cara masak yang masih old fashioned. Yap, saat memasak, Maslikha menggunakan cara kuno alias dengan tungku arang.

”Sebenarnya masih ada peralatan lain, misalnya dandang (alat masak nasi) dari mbah saya dulu. Tapi sudah tidak digunakan lagi karena sekarang sudah ada magic com,” terangnya lantas tersenyum. Maslikha hanya memanfaatkan dandang saat sedang punya hajatan atau pesanan khusus saja.

Untuk menghasilkan rawon yang ”ngangenin”, Maslikha tetap berpatokan pada resep yang diturunkan dari ibu dan neneknya dulu. Termasuk saat membuat semur. ”Sebenarnya semua (orang) juga bisa buat (masakan lezat),” ujarnya merendah.

Hanya, soal bumbu dan takarannya, Maslikha mengakui ada ciri khas Warung Brintik. ”Yang jelas, bumbunya harus banyak agar kental,” terangnya. Untuk membuat semur pun Maslikha juga memasaknya menggunakan arang.

Dari sekian banyak pencinta kuliner yang jadi langganannya, Maslikha menyebut, salah satunya pembalap legendaris Tinton Suprapto. Kalau ke Malang, dia pasti mampir ke Warung Brintik.

”Selain makan di sini, Pak Tinton juga selalu mbungkus (bawa pulang) semur daging yang jadi kesukaannya,” kata Maslikha.

Tak hanya itu, dia juga mengaku sempat datang ke Jakarta untuk memenuhi undangan Tinton pada tahun 2016 lalu. Maslikha diminta khusus memasak semur 100 porsi dalam sebuah acara di Sentul, Bogor.

”Masak semurnya di rumah anaknya yang tinggal di Jakarta,” bebernya.

Harga makanan di Warung Brintik cukup bervariasi. Untuk seporsi rawon dan semur misalnya dibanderol Rp 25 ribu. Sedangkan kare ayam kampung Rp 20 ribu per porsinya. Untuk minuman, ada jeruk nipis atau teh sebagai pilihan.

Pewarta: Achmad Yani
Penyunting: Achmad Yani
Copy editor: Arief Rohman
Foto: Rubianto