Warung Bu Supra di Pasar Pakis, Eksis sejak 1981

Warung ini mula-mula merupakan warung milik sang kakak. Lalu, Bu Supra melanjutkan untuk mengelola warung ini sekitar 36 tahun silam. Dengan mengandalkan masakan rumahan, warung tersebut eksis hingga sekarang. Ada banyak hal yang membedakan masakan di tempat ini dengan di tempat lain. Apa saja itu?

Kemarin (5/10) sekitar pukul 08.00, suasana di Pasar Pakis, Kabupaten Malang, masih dipenuhi lalu lalang warga. Ada satu kios yang cukup ramai. Kios tersebut adalah Warung Bu Supra yang berada di barisan depan Pasar Pakis. Ukuran kios ini tidaklah besar, hanya sekitar 3×4 meter.

Ya, bagi Anda yang sedang melintasi wilayah Pakis, tampaknya perlu mencoba kuliner legendaris ini. Pilihan menu di warung tersebut beragam, yakni ada rawon, soto, lodeh, dan kare. Hanya, jika ke warung ini, Anda tidak boleh terlalu siang datang karena bisa jadi menu andalan warung tersebut, seperti sate komoh dan sate rempah, sudah habis dibeli pelanggan.

Bu Supra–begitu pemilik warung ini biasa disapa– dengan telaten meladeni sendiri permintaan pembelinya. Meski usianya 76 tahun, dia masih cekatan mengayunkan centong nasi maupun sayur ke piring-piring makanan yang dipesan pembeli.

”Sebelumnya, warung ini milik kakak saya. Setelah beliau meninggal, lalu saya lanjutkan,” kata Supra kemarin.

Supra sendiri sudah sejak kecil membantu kakaknya mengurus warung tersebut sehingga dia paham benar apa saja resep dan kunci dari setiap masakan yang dijual.



”Kalau ikut kakak saya sudah sejak kecil. Kalau murni saya pegang warung ini sendiri sejak 36 tahun silam,” katanya. Dengan demikian, warung ini kemungkinan sudah dikelola Supra sejak sekitar 1981.

Sehari-hari, Supra dibantu dua orang putrinya dan satu pegawai. Saban hari, dia menghabiskan 20 kilogram beras dan 10 kilogram daging. Daging ini diperuntukkan untuk beragam jenis makanan. Rawon dan Soto buatan Supra berbahan dasar daging, sementara untuk kare menggunakan daging ayam.

Soal cita rasa, Supra memilih masakan berbeda dari masakan pada umumnya yang banyak menggunakan penyedap rasa (vetsin). Masakan Supra lebih mirip seperti masakan rumahan yang dimasak seorang nenek untuk cucunya. Dengan bumbu racikan sendiri, masakan ibu enam anak ini terasa sangat familier di lidah karena benar-benar seperti masakan rumahan.

Rasanya memang cenderung ringan alias tidak terlalu sedap karena tambahan micin. Tapi, bagi banyak pelanggannya, warung ini sering nagihi dan ngangeni.

Untuk menjaga selera pelanggan, Supra memastikan bumbu yang di warung tersebut selalu diolah dalam keadaan segar. Bumbu di warung tersebut memang dari rempah-rempah alami dan tidak ada bumbu jadi yang digunakan.

”Harus meracik sendiri karena kalau beli rasanya kurang sedap meskipun bumbu yang banyak,” imbuhnya.

Selain rawon, bumbu-bumbu tersebut dimasak setiap hari. ”Khusus rawon bikin bumbunya satu minggu sekali sekalian langsung banyak,” kata dia. Setiap harinya tidak kurang dari lima kilogram bahan bumbu segar diolah demi cita rasa masakan yang terbaik.

Untuk bumbu rawon, Supra kadang bisa mengolah 12 kilogram bumbu. Mulai dari kunyit, jahe, bawang merah, bawang putih, keluak, dan lengkuas. ”Kecuali kemiri, ketumbar, dan merica, masing-masing bumbu butuh dua kilogram,” ujar Supra.

Sementara untuk daging, dalam sehari Supra rata-rata mengolah 10 kilogram daging sapi ditambah 3 kilogram ayam untuk kare, dan 2 kilogram udang untuk peyek.

Pewarta: Farik Fajarwati
Penyunting: Irham Thoriq
Copy editor: Dwi Lindawati
Foto: Falahi Mubarok