Di tengah menjamurnya wisata kuliner di Kota Malang, Warung Citra Bu Dewi tetap memiliki pelanggan setia. Inovasi menu yang dilakukan Dewi Sri, sang pemilik, membuat warung yang sudah berdiri selama 21 tahun dan berada di Jalan Kertoraharjo No 100, Kota Malang, ini tak pernah sepi pengunjung. Tak mau kalah dengan tren kuliner kekinian, lahirlah menu Ayam Jingkrak.

Asap tipis mengepul dari potongan ayam berbalut bumbu sekaligus sambal yang baru saja disajikan Bu Dewi. Aroma lezat langsung menyerbak bersamaan dengan harum daun kemangi. Ya, sajian Ayam Jingkrak ini menjadi menu andalan Warung Citra Bu Dewi. Menyasar kalangan mahasiswa, harganya yang relatif murah serta kelezatan bumbunya menjadi kunci Warung Citra Bu Dewi yang tak pernah sepi.

Warung yang berdiri sejak 1997 silam ini bisa tetap eksis karena mengikuti tren kuliner kekinian. Menu-menu baru terus ditambah. Tujuannya, untuk menjaga lidah pelanggannya supaya tidak bosan. Saat ini, Ayam Jingkrak inilah yang jadi menu andalan.

Menurut Bu Dewi, inovasi menu Ayam Jingkrak sudah dilakukan sejak tiga tahun terakhir. ”Saya lihat menu untuk anak-anak (mahasiswa) kok itu-itu saja. Karena itu, saya tambah menu ini,” terang sang pemilik.

Menurut perempuan berusia 56 tahun ini, inovasi menu dilakukan karena dia melihat fenomena tren Ayam Geprek beberapa tahun terakhir. Akhirnya, pada suatu malam dia tidak bisa tidur dan memikirkan resep menu baru.

”Akhirnya pada keesokanharinya saya langsung bereksperimen membuat menu baru Ayam Jingkrak ini,” terangnya.

Selain Ayam Jingkrak, menu lain yang juga menjadi andalan adalah Ayam Pontianak. Jika Ayam Jingkrak ada aroma kemangi, Ayam Bakar Pontianak lebih menonjolkan aroma bawangnya.

Dia menjelaskan, selain lalapan, warungnya juga menyediakan menu seperti tahu lontong, tahu telur, dan mi.

Setelah beberapa kali uji coba, menu baru tersebut banyak dipesan pengunjung warung yang rata-rata mahasiswa. Menurut dia, ciri khas Ayam Jingkrak terletak pada bumbunya yang dibuat meresap hingga ke sela-sela daging ayam yang empuk.

”Ternyata respons pembeli bagus,” bebernya.

Namun, bukan berarti warung tersebut tidak menemui kendala. Bu Dewi menjelaskan bahwa bisnisnya dua tahun terakhir ini menurun. ”Saat ini saya hanya menghabiskan ayam sebanyak 16 kg saja,” terangnya.

Dia menjelaskan bahwa sebelumnya warungnya bisa menghabiskan 25 kg ayam. Warungnya tutup juga pada pukul 19.00. ”Dulu azan Isya sudah tutup, sekarang mungkin bisa sampai pukul 21.00,” ujarnya.

Dia beranggapan bahwa hal tersebut dipengaruhi banyaknya warung yang menjamur serta mahalnya tempat tinggal mahasiswa di sekitar tempat itu.

”Sekarang banyak mahasiswa yang tidak tinggal di sini lagi karena biaya kos yang mahal,” ujar nenek 4 cucu tersebut. Namun, dia tetap optimistis bahwa warungnya bisa tetap eksis hingga tahun-tahun mendatang.

”Sekarang saya hanya ikhtiar dan tetap berusaha,” terangnya tegar.

Menurut Bu Dewi, sering kali pelanggan lamanya, yakni mahasiswa yang sudah lulus datang karena kangen dengan masakannya.

”Banyak lulusan yang sudah lama tidak tinggal di sini, kemudian kembali lagi ke sini karena kangen masakan saya,” terangnya. Hal itulah yang juga memotivasi dirinya untuk tetap mengembangkan usaha kulinernya.

Winda Hermin Ayulian, salah seorang pelanggan Warung Citra Bu Dewi, mengaku sering menyantap menu favoritnya, Ayam Jingkrak.

”Saya ke sini bisa 2–3 kali dalam seminggu,” terang mahasiswi Jurusan Kedokteran Hewan UB tersebut. Winda mengungkapkan bahwa dia selalu ketagihan menu makanan di tempat itu.

”Selalu saya ke sini, hampir pasti saya memesan Ayam Jingkrak. Sebab, bumbunya lezat dan begitu meresap,” tandas mahasiswi semester 7 tersebut.

Pewarta: Gigih Mazda
Penyunting: Achmad Yani
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Rubianto