Warung Rawon Pagi Blimbing Eksis hingga 66 Tahun

Masak Pakai Arang, Serundeng Nenek Jadi Pembeda

Berdiri sejak 66 tahun silam, warung ini tetap konsisten dengan ciri khasnya: hanya buka mulai pukul 07.00 hingga pukul 14.00. Tampaknya, hal itu dilakukan untuk menyesuaikan dengan namanya, Warung Rawon Pagi Blimbing. Ada banyak ciri khas yang tetap dilestarikan oleh generasi ketiga.

Warung yang berada di Jalan Laksda Adi Sucipto, Nomor 35, Blimbing, Kota Malang, ini sebenarnya tak jauh berbeda dengan warung rawon lain. Saat masuk ke warung mungil ini, aroma rawon begitu terasa. Aroma yang menggugah perut itu muncul dari asap panas kuah rawon.

Rawon di tempat ini disajikan dengan dua varian. Pertama, nasi rawon lengkap dengan kuah. Dan yang kedua, rawonnya terpisah. Semua tergantung orderan pelanggan. Selain aromanya yang amat menggoda, rasa rawon di tempat ini juga sungguh lezat.

Di balik sejarah panjangnya, ada satu hal unik. Apa itu? Rawon di tempat ini sama sekali tidak menggunakan garam saat dimasak.

”Kami memasak tanpa menggunakan garam, karena rawon itu paling enak kalau sudah dua hari setelah masak. Jadi, untuk menghindari kuah yang terlalu asin ketika dipanasi sampai beberapa kali, kami pun tidak memberi garam,” kata Ruli Riski Amalia, generasi ketiga yang mengelola warung ini.



Sebagai gantinya, garam akan ditaburkan ketika hendak dihidangkan. Selain menghindari rasanya yang terlalu asin, hal ini untuk mengantisipasi permintaan pelanggan yang tak suka makan masakan yang terlalu sedap. Biasanya, ini permintaan pelanggan yang memiliki penyakit hipertensi atau darah tinggi.

Selain garam yang tidak dicampur saat kuah dimasak, dagingnya juga ditiriskan setelah dimasak, dan dimasukan ke dalam hidangan ketika hendak dihidangkan.

Kelezatan rawon pagi ini tak terlepas dari resep yang secara turun-temurun tetap dijaga. Pendiri warung ini adalah Mak Sah, nenek Ruli. ”Resepnya sama dengan rawon pada umumnya. Cuma, kami memilih kluwek terbaik yang paling hitam supaya warnanya benar-benar menarik,” kata dia.

Rawon di warungnya ini tidak dimasak dengan kompor, melainkan menggunakan arang dan sekam. Meski prosesnya lama, tapi gerenasi demi generasi yang mengelola warung ini meyakini kalau proses inilah yang membuat masakan jadi sedap.

”Kalau memasak dengan arang itu lebih gurih, karena kuah lebih tercampur ketika masaknya lama pakai arang,” imbuhnya.

Tidak hanya resep yang tetap dilestarikan. Ciri khas dari generasi pertama pun tetap dijaga hingga kini. ”Serundeng jadi ciri khas sejak nenek pertama kali berjualan, dan terbukti itu menjadikan rasa rawon lebih gurih dan enak,” imbuh perempuan dengan empat orang anak ini.

Serundengnya juga bukan dari kelapa sembarangan. Jenis kelapa yang dipilih adalah kepala yang tak terlalu muda dan juga tak terlalu tua. Proses pembuatan serundeng pun dengan campuran berbagai bumbu dapur, ditambah dengan cabai merah untuk mendapat cita rasa serta warna yang menarik.

Bagi Anda yang suka menambah lauk, tak perlu khawatir. Lantaran, di warung ini ada tambahan seperti mendol, empal, tempe, perkedel kriwol, paru, dan babat.

”Mendolnya kami bikin sendiri. Jadi bikinnya hari ini, masaknya besok. Hasilnya, kulit luarnya lebih krispi, dalamnya tetap lembut dan padat. Untuk perkedelnya dilumuri adonan telur dan di dalamnya dicampur potongan daging ,” paparnya.

Harga satu porsi rawon di warung ini Rp 15.000. Sedangkan untuk perkedel kriwol Rp 4.000, mendol Rp 3.000, empal dan paru Rp 15.000–Rp 20.000 ribu, dan tempe Rp 1.000. Tentu saja, harga tersebut relatif murah bagi penghobi kuliner legendaris.

Pewarta: NR5
Penyunting: Irham Thoriq
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Falahi Mubarok